BERTUAHPOS – Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka peluang untuk menampilkan kembali informasi pemesanan beli (bid) dan penawaran jual (ask) pada perdagangan saham dengan skema Full Call Auction (FCA).
Langkah ini dilakukan setelah skema tersebut menuai kritik dari investor karena dinilai membuat transaksi sulit diprediksi.
Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan bursa tengah mengevaluasi mekanisme FCA, termasuk kemungkinan menghadirkan kembali bid dan ask, serta meninjau ulang kriteria saham yang masuk dalam papan pemantauan khusus.
“Bid dan ask itu yang sedang kami review. Harapannya bisa diterapkan pada 2026,” kata Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu, 17 Desember 2025.
Evaluasi ini merupakan respons atas protes investor yang menilai perdagangan saham FCA tanpa transparansi bid dan ask menyerupai praktik perjudian.
Kritik tersebut bahkan dituangkan dalam petisi di laman Change.org yang telah ditandatangani lebih dari 16 ribu investor sejak Juni 2025.
Investor menilai ketiadaan informasi bid dan ask membuat harga saham terbentuk secara tiba-tiba saat penutupan perdagangan, sehingga pelaku pasar seolah harus menebak-nebak arah harga sebelum bertransaksi.
Menurut Jeffrey, BEI secara rutin melakukan evaluasi terhadap setiap papan perdagangan. Tujuannya untuk meningkatkan likuiditas, menjaga perlindungan investor, serta mendukung pendalaman pasar modal Indonesia.
Skema FCA sendiri diluncurkan BEI untuk saham-saham dengan kriteria tertentu. Mekanisme ini awalnya dirancang sebagai upaya memperbaiki kualitas perdagangan dan mengurangi potensi volatilitas berlebihan.
Namun dalam praktiknya, sebagian investor justru menilai FCA membuat pasar menjadi tidak stabil dan sulit dianalisis, terutama bagi investor ritel yang mengandalkan transparansi data transaksi.
Dalam petisi yang beredar, investor menyebut perdagangan saham FCA tanpa bid dan ask lebih menyerupai judi tebak angka dibandingkan instrumen investasi jangka panjang. Mereka pun mendesak BEI agar merevisi atau menghapus aturan tersebut.
Dengan sinyal evaluasi ini, BEI berharap dapat menemukan formulasi yang lebih seimbang antara perlindungan investor dan peningkatan likuiditas pasar ke depan.***








