BERTUAHPOS — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) berencana kembali melakukan pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai hingga US$200 juta atau setara Rp3,3 triliun. Rencana ini akan dibahas dan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 18 Juni 2025.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen GOTO menyatakan bahwa buyback akan dilakukan paling lama 12 bulan setelah RUPS digelar. Dana buyback akan bersumber dari kas internal perseroan.
“Biaya untuk pelaksanaan buyback berasal dari kas internal. Dana yang disiapkan maksimal sebesar US$200 juta atau sekitar Rp3,3 triliun,” tulis manajemen GOTO dalam keterangan resminya dikutip pada Selasa, 13 Mei 2025.
Perseroan menyebut, jumlah saham yang akan dibeli tidak akan melebihi 10% dari total modal ditempatkan dan disetor, termasuk saham treasuri yang sudah dimiliki. Saat ini, GOTO tercatat memiliki saham treasuri sebanyak 27,79 miliar lembar atau 2,33% dari modal ditempatkan dan disetor.
Langkah buyback ini disebut sebagai strategi untuk memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam pengelolaan modal perusahaan. GOTO ingin mengoptimalkan struktur modal serta mendukung potensi inisiatif strategis di masa depan.
Manajemen memastikan bahwa rencana buyback ini tidak akan berdampak negatif secara material terhadap pendapatan maupun operasional. Dengan kas dan modal kerja yang memadai, GOTO meyakini proses pembelian kembali saham dapat berjalan tanpa mengganggu kinerja keuangan perusahaan.
Sebelumnya, hingga akhir Maret 2025, GOTO telah merealisasikan buyback senilai US$99 juta atau sekitar Rp1,6 triliun. Dalam periode tersebut, sebanyak 25,9 miliar saham berhasil dibeli kembali.
Direktur Keuangan GOTO, Simon Ho, menyampaikan bahwa perusahaan tetap fokus pada pertumbuhan berkelanjutan.
“Kami telah melakukan pembelian kembali sebanyak 25,9 miliar saham. Nilainya sekitar US$99 juta. Fokus kami ke depan adalah melanjutkan progres yang telah dicapai untuk mencapai pertumbuhan yang konsisten dan menguntungkan sepanjang 2025,” kata Simon dalam pemaparan kinerja pada 29 April 2025.
Langkah buyback ini dinilai sebagai sinyal positif kepada pasar, sekaligus bagian dari upaya mempertahankan kepercayaan investor di tengah dinamika sektor teknologi dan isu merger dengan Grab yang terus bergulir.***








