BERTUAHPOS.COM — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara masif memperkuat literasi finansial generasi muda dengan membedah peluang dan risiko pembiayaan digital, yang kini mendominasi pasar keuangan nasional. Upaya ini bertujuan untuk membentengi mahasiswa dari ancaman penyalahgunaan data pribadi serta jeratan platform pinjaman ilegal yang merugikan.
Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK, Agusman, menegaskan bahwa kecepatan teknologi harus sebanding dengan pemahaman konsumen agar tidak terjebak dalam masalah keuangan. “Pembiayaan digital atau penyediaan dana berbasiskan teknologi mulai dari pengajuan aplikasi sampai nanti penyelesaian pembayarannya cepat sekali dan lintas wilayah,” tegas Agusman.
Kuliah umum bertajuk prospek masa depan ini menyoroti bagaimana kemudahan akses data pada perangkat ponsel pintar menciptakan celah eksploitasi bagi oknum tidak bertanggung jawab. Pemahaman mengenai peluang dan risiko pembiayaan digital menjadi kunci bagi para akademisi untuk memanfaatkan inovasi keuangan secara sehat dan stabil.
Regulator terus menyempurnakan berbagai peta jalan atau roadmap industri pinjaman daring guna memastikan perlindungan konsumen tetap menjadi prioritas utama. Kolaborasi antara dunia kampus dan otoritas pengawas sangat krusial dalam mencetak sumber daya manusia yang adaptif terhadap transformasi perbankan modern.
“Memang regulasi kami sudah macam-macam, ada undang-undang dan roadmap, tapi butuh dukungan kampus agar adik-adik mahasiswa jangan sampai pernah jadi korban,” jelas Agusman.
Sinergi ini merupakan tindak lanjut nyata dari nota kesepahaman yang telah terjalin antara OJK dan Universitas Riau hingga tahun 2028 mendatang.
Rektor Universitas Riau, Sri Indarti, mengapresiasi dukungan regulator dalam mempersiapkan lulusan yang memiliki daya saing tinggi di era ekonomi digital. Menurutnya, pengetahuan praktis mengenai manajemen utang dan investasi sangat dibutuhkan agar mahasiswa mampu berkontribusi aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala OJK Provinsi Riau, Triyoga Laksito, mengatakan bahwa sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mendongkrak indeks inklusi keuangan di wilayah Riau secara signifikan. Mahasiswa yang literat secara finansial akan menjadi agen perubahan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat luas mengenai bahaya bunga tinggi dari entitas tidak terdaftar.
“Sinergi dan kolaborasi ini diharapkan dapat mencetak sumber daya manusia generasi muda yang unggul dan memiliki daya saing di sektor keuangan,” ungkap Triyoga.
Dia menekankan, bahwa pemerintah berkomitmen terus memperluas jangkauan edukasi guna membentuk ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan melalui penguasaan terhadap peluang dan risiko pembiayaan digital.***









