BERTUAHPOS.COM — Sebanyak 23 perusahaan memutuskan menunda penawaran umum perdana saham atau IPO saham 2026 karena menilai kondisi pasar modal belum mendukung penghimpunan dana dari publik. Keputusan itu disampaikan Otoritas Jasa Keuangan di tengah proses IPO yang awalnya diikuti 38 perusahaan pada tahun ini.
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Agus Firmansyah, menyatakan dari 38 perusahaan tersebut baru tujuh yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia. Delapan perusahaan masih dalam proses, sementara 23 lainnya memilih menunda rencana.
“Mereka menunda, karena memang mungkin dilihat tahun ini bukan tahun yang bagus untuk IPO,” kata Agus, dikutip Senin, 2 November 2026.
Menurut Agus, keputusan itu tidak lepas dari pertimbangan perusahaan terhadap kondisi perekonomian dan pasar saham Indonesia. Perusahaan menilai saat ini belum menjadi waktu yang tepat untuk menawarkan saham kepada publik.
Agus menyebut ada perusahaan yang menyampaikan pembatalan rencana IPO, tetapi sebagian besar memilih menunda hingga kondisi pasar dinilai lebih mendukung. “Mereka mungkin melihat kurang pas, either perusahaan sendiri belum siap atau memang mereka melihat kondisi pasarnya juga yang belum pas,” ujarnya.
Tujuh emiten yang telah mencatatkan saham perdana sepanjang 2026 adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS). Berikutnya PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI).
Agus menjelaskan perusahaan yang berencana IPO perlu mempertimbangkan kesiapan internal sekaligus kondisi pasar. Alasannya, melalui IPO perusahaan akan menghimpun dana dari investor publik sehingga kesiapan menjadi syarat utama.
Pipeline penawaran umum di pasar modal masih mencatatkan 23 perusahaan dengan perkiraan nilai penggalangan dana Rp27,9 triliun. Angka itu mencakup seluruh jenis penawaran umum, meliputi IPO saham, rights issue, serta penawaran umum efek bersifat utang dan sukuk.*









