• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Minggu, November 1, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Menelisik Ancaman Resesi Ekonomi di Tengah Pandemi

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
19 Maret 2020
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM — Akhir 2019 banyak pihak sudah was-was bahwa pada 2020 kemungkinan terjadi resesi atau krisis ekonomi. Ramalan ini muncul karena perang dangan China-AS belum damai betul. Belum lagi protes Hong Kong tak terbendung, termasuk gejolak protes banyak meletus dibeberapa negara lainya.

Namun tak ada yang menduga kalau ekonomi dunia juga goyah akibat virus corona. Sejumlah negara yang kini diwabahi pasti merasakan ekonominya tergerus, tanpa terkecuali Indonesia, jika penanganan corona tak becus.

Kepala Bursa Efek Indonesian (BEI) Perwakilan Riau, Emon Sulaeman mengungkapkan, jika merujuk pada kondisi awal tahun, perekonomian kemungkinan masih tahan dari berbagai ancaman. Meski grafik bursa saham bergerak beragam (fluktuatif).

“Ancamannya tak ‘seganas’ pada krisis di masa lalu,” ungkapnya dalam sebuah presentasi kepada wartawan beberapa waktu lalu di Pekanbaru.

Namun, pada awal Maret lalu, saat presentasi peluang investasi tahun 2020, di salah satu hotel di Pekanbaru, Emon berpendapat bahwa wabah ini bisa jadi masalah karena setiap negara yang dijangkitinya, mengharuskan pemerintah mengambil kebijakan tak biasa.

Sejak corona mendunia, harga minyak global terpental (turun). Riau sebagai daerah penghasil migas harap-harap cemas, sebab sangat mungkin jatah DBH dipangkas. “Sekarangkan harga minyak dunia turun, kita takut juga berpengaruh ke DBH,” kata Gubernur Riau, Syamsuar, beberapa waktu lalu.

Meski belum fokus pada kondisi ekonomi, kata Gubri, bukan berarti pihaknya abai dengan masalah ini. Pemerintah masih konsen menyelamatkan warga dari wabah corona sampai kondisi betul-betul mereda. Barulah ekonomi daerah jadi fokus penyelesaian masalah.

Deputi Direktur Bank Indonesia (BI) Riau, Teguh Setiadi meyakini cocona pasti berdampak pada ekonomi. Walau untuk sementara ini masih belum bisa dikaji. Upaya pemerintah siapkan beberapa paket kebijakan dianggap tangkal agar ekonomi daerah tak terlalu jauh terjungkal. Terhadap revisi ekonomi, pasti akan ditempuh. “Kalau (corona) berpengaruh, ya, pasti berpengaruh,” kata Teguh.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto mengatakan ancaman krisis ekonomi di Indonesia sangat mungkin kalau pemerintah tak mampu menahan liarnya penyebaran virus corona, setidaknya hingga kuartal III 2020.

Bagaimana tidak, penurunan daya beli masyarakat merosot akan membuat tingkat konsumsi rumah tangga melorot. Padahal, sektor ini jadi komponen tergemuk membentuk produk domestik bruto (PDB). “Ini mempercepat menuju krisis. 3 triwulan tidak teratasi bisa krisis,” ucap Eko kepada CNNIndonesia.com.

Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi rumah tangga menyumbang hingga 56,62% terhadap ekonomi Indonesia di 2019. Diikuti dengan komponen ekspor-impor dan investasi. Menurut Eko, Indonesia saat ini sebenarnya sudah bisa disebut resesi, mengingat perlambatan ekonomi dalam negeri sudah terjadi sejak tahun lalu.

BPS mencatat perlambatan ekonomi Indonesia terjadi sejak kuartal I 2019. Rinciannya, pertumbuhan kuartal I 2019 tercatat sebesar 5,07%, kuartal II 2019 sebesar 5,05%, kuartal III 2019 sebesar 5,02%, dan kuartal IV 2019 hanya 4,97%.

Eko melihat situasi ekonomi akan lebih parah ketimbang krisis 2008-2009 lalu. Pada 2009, pertumbuhan ekonomi masih bisa dijaga di level 4,5%, sedangkan virus corona berpotensi membuat ekonomi tumbuh di bawah 4,5% pada 2020.

Virus corona yang dihadapi tahun ini tekanannya lebih ganal (besar) daripada krisis global. Saat krisis 2009 hanya menyerang sektor keuangan, sedangkan wabah virus corona membuat semua aspek menjadi tak respek. (bpc3)

Tags: Coconakrisis ekonomiresesi
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Kebutuhan uang kartal di riau, menggunakan dana dbh, UMK Riau 2023, transfer dana Porprov riau
Finance

Kenaikan Suku Bunga Acuan Tak Akan Picu Resesi

...

Read moreDetails
resesi dan stagflasi

Stagflasi Lebih Berbahaya dari Resesi, Indonesia dalam Ancaman Itu

krisis pandemi

Alasan Indonesia Bisa Bebas dari Krisis Akibat Pandemi

85 Wisatawan dari Afrika Selatan yang Masuk ke Belanda Positif Corona

BERAS

Pemerintah Sri Lanka Sita Bahan Pangan Akibat Krisis Ekonomi

asosiasi pengusaha indonesia apindo

APINDO Riau di Tengah Pandemi: Saya Kira Perhatian Kita Cukup untuk UKM

Next Post

Berikut Ini Rincian Kasus Corona di Riau

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.