BERTUAHPOS – Harga emas dunia sedang mencoba untuk bengkit dari keterpurukan. Tanda-tanda itu mulai terlihat pada pembukaan pekan ini setelah sempat babak belur di pekan sebelumnya.
Meski mencatatkan kenaikan tipis, para pakar memproyeksi penguatan harga emas ini masih sangat terbatas dan belum mampu menembus level psikologis utama di angka US$5.000 per ons troi.
Data perdagangan Senin, 23 Maret 2026, harga emas terpantau merangkak naik 0,41% ke level US$ 4.505,7 per ons troi.
Angka ini menjadi angin segar setelah pada Jumat, 20 Maret lalu, harga emas sempat ambles 3,45% dan mencatatkan rapor merah dengan penurunan lebih dari 10% dalam sepekan terakhir.
Dilansir dari Investor.id, pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai “tekanan terhadap logam mulia masih sangat kuat.”
Dominasi dolar AS dan kebijakan suku bunga global menjadi penghalang utama bagi emas untuk terbang lebih tinggi.
“Jika koreksi berlanjut di awal pekan, harga emas berpotensi menguji support di US$ 4.423,06 per ons troi,” ujarnya.
Jika tekanan tidak mereda, harga bahkan bisa terseret lebih dalam menuju level support berikutnya di US$ 4.319 per ons troi.
Ibrahim menyoroti fenomena beralihnya minat investor dari emas ke dolar AS.
Penguatan indeks dolar yang diperkirakan bergerak di kisaran support 98,73 hingga resistance 101,20 membuat emas kehilangan daya tariknya sebagai aset aman (safe haven) utama untuk sementara waktu.
“Penguatan dolar ini membuat investor sementara beralih dari emas ke dolar AS sebagai aset safe haven,” jelas Ibrahim.
Selain faktor mata uang, lonjakan harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah turut menjepit posisi emas.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memicu kekhawatiran akan terjadinya perang darat, yang berujung pada melambungnya harga minyak mentah.
Harga minyak WTI diprediksi bergerak di rentang US$ 93,30 hingga US$ 107,10, sementara minyak Brent berpotensi menembus level US$ 110 hingga US$ 116.
Kondisi ini memicu inflasi global dan memaksa bank sentral untuk mempertahankan sikap hawkish.
“Situasi ini membuat bank sentral global cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga. Ini menjadi sentimen negatif bagi emas,” tegas Ibrahim.
Secara teknikal, meskipun ada peluang rebound, emas diperkirakan hanya akan menguji level resistance di US$ 4.559,86 hingga US$ 4.681,5 per ons troi.
Dalam sepekan ke depan, harga emas masih akan cenderung bergerak di bawah level psikologis US$ 5.000.
“Artinya, dalam sepekan ke depan harga emas masih cenderung bergerak di bawah level psikologis,” sebutnya.***









