BERTUAHPOS — Harga perak membalik ke rekor baru. Harga perak naik setelah Federal Reserve (The Fed) menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,5%–3,75%.
“Keputusan ini memicu penguatan signifikan pada komoditas tersebut,” kata Analis Marex, Edward Meir dalam laporan Reuters, Jumat, 12 Desember 2025.
Tercatat harga perak spot melonjak hampir 4% ke posisi US$64,22 per troy ons. Angka ini mendekati rekor tertinggi intraday US$64,31 yang sempat tersentuh pada sesi perdagangan yang sama.
Dalam analisanya, perak sedang memberi dorongan terhadap kenaikan komoditas logam lainnya, termasuk emas, platinum, dan paladium. “Ini akan menjadi momentum kuat dan masih akan menopang reli di pasar perak secara global,” tuturnya.
Penguatan perak terjadi saat para pejabat The Fed mengisyaratkan perlunya pemangkasan suku bunga lanjutan pada tahun depan, meskipun pandangan mereka masih terpecah terkait besaran pemotongan. Sejumlah pembuat kebijakan bahkan menolak rencana pemangkasan lebih agresif.
Sementara itu, analis senior Global X ETFs, Trevor Yates, menyatakan rekor harga perak didorong oleh berubahnya sentimen pasar yang mulai memperhitungkan kondisi makro ekonomi lebih positif untuk tahun 2026. Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih longgar ikut memperkuat prospek tersebut.
Yates menilai pasar perak berpotensi tetap dalam posisi defisit pada 2026. Kondisi ini dipicu meningkatnya permintaan industri, pertumbuhan sektor energi surya, dan pasokan yang hanya meningkat moderat.
Faktor teknikal juga memberi dorongan tambahan pada reli perak. Posisi opsi besar di iShares Silver Trust (SLV), ETF perak terbesar, diyakini menjadi pendorong aksi beli lanjutan menjelang habis masa kontrak.
Lebih dari 21.000 opsi beli SLV tercatat masih aktif dan jatuh tempo pada Jumat. Para pelaku pasar yang melakukan short selling kemungkinan harus menyeimbangkan posisi dengan pembelian saham, sehingga memperkuat kenaikan harga perak.***









