BERTUAHPOS — Harga emas dunia berada di bawah tekanan. Meski sempat menyentuh rekor baru di atas US$3.700 per troy ons pada 18 September, setelah lonjakan singkat itu, harga emas turun sekitar US$70 pada sesi pagi.
Menurut catatan analis komoditas Commerzbank, Carsten Fritsch, kinerja emas erat kaitannya dengan pergerakan Dolar AS (USD).
Awalnya dolar melemah sesaat setelah keputusan Federal Reserve (The Fed) menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu, 17 September.
Namun, penguatan signifikan kembali terjadi tidak lama setelahnya, sehingga menekan harga emas.
Dari hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), mayoritas tipis anggota mendukung dua kali pemotongan suku bunga tambahan hingga akhir 2025.
Meski demikian, sejumlah anggota menilai tidak ada kebutuhan untuk pemangkasan lebih lanjut. Untuk 2026, proyeksi median hanya satu kali pemotongan.
Menariknya, hanya dua anggota FOMC yang memperkirakan suku bunga acuan pada akhir 2026 lebih rendah dari ekspektasi pasar, sementara sebagian besar justru melihat suku bunga tetap lebih tinggi.
Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang tajam di tubuh FOMC.
Situasi ini berpotensi berubah pada Mei 2026 ketika masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed berakhir.
Presiden AS Donald Trump akan menunjuk pengganti baru, yang dinilai dapat membawa arah kebijakan berbeda.
Sinyal perubahan itu terlihat dari sikap Gubernur Fed Stephen Miran, sosok dekat Trump yang dalam voting terakhir memilih pemangkasan 50 basis poin.
Miran bahkan diperkirakan mendorong pemotongan lebih agresif hingga 125 basis poin pada akhir tahun.
Jika kebijakan pemangkasan agresif benar terealisasi di tengah ancaman inflasi yang berlanjut, analis menilai hal itu bisa menjadi pemicu harga emas kembali melonjak lebih tinggi.***









