Buruh, Pekerja dan Dilema Kenaikan BBM Subsidi

Rabu, 27 Agustus 2014 07:50

BERTUAHPOS.COM,Pembatasan kuota BBM bersubsidi yang dilakukan Pertamina dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan BBM bersubsidi hingga akhir 2014 menimbulkan dampak langkanya BBM Subsidi di berbagai daerah dan menyebabkan banyaknya antrean panjang di beberapa SPBU.

Dampak dari hal ini pun akhirnya dikaitkan dengan masalah politik karena berhubungan dengan kebijakan untuk menaikan harga BBM Subsidi di Pemerintahan SBY atau di Pemerintahan Jokowi.

Ketidakcukupan kuota BBM Subsidi hingga akhir tahun berkaitan dengan meningkatnya konsumsi BBM subsidi sejak awal 2014 hingga sekarang. Penyebab meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi tentu disebabkan oleh bertambahnya jumlah kendaraan sepanjang tahun 2014 dan kurang sadarnya masyarakat mampu menggunakan BBM non subsidi, serta kurangnya pengawasan dari pemerintah untuk menerapkan pelarangan mobil mewah mengisi BBM bersubsidi.

Untuk dapat mengetahui berapa besarnya pertambahan jumlah kendaraan yang turun ke jalan dan sekaligus mengakibatkan meningkatnya jumlan konsumsi BBM bersubsidi, maka kita dapat melihat data penjualanan kendaraan baik mobil maupun motor. Dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total penjualan mobil nasional Januari hingga Juli 2014 sebanyak 733.716 unit. Sedangkan untuk sepeda motor, data dari Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia menyebutkan penjualan sepeda motor dari Januari – Juli 2014 nasional mencapai 4.755.644 unit. (sumber Beritasatu.com).

Baca: Besok Harga BBM Turun, Harga Rumah Tetap Naik

Besarnya penambahan jumlah kendaraan setiap tahun sepertinya tidak jauh berbeda, sehingga seharusnya pemerintah sudah dapat menghitung dan mengantisipasi besarnya anggaran yang akan digunakan untuk subsidi BBM per tahun.

Besarnya subsidi untuk BBM ini memang memberatkan APBN, namun dengan menaikan harga BBM subsidi tentu akan memberatkan rakyat kecil terutama para pekerja seperti buruh pabrik, buruh bangunan, pramuniaga di mall dan karyawan yang gajinya hanya sebesar UMP, yang mengandalkan BBM subsidi untuk dapat mengendari motor hasil kredit dan mengandalkan angkutan umum sebagai transportasi. Golongan masyarakat ini tentu tidak termasuk ke dalam golongan penerima bantuan langsung tunai (BLT) yang biasanya diberikan sebagai kompensasi kenaikan BBM karena tidak termasuk golongan tidak mampu, dan mengingat kenaikan BBM bukan hanya akan berdampak pada kenaikan bertambahnya biaya transportasi melainkan juga biaya hidup yang diikuti dengan menurunnya kualitas hidup.

Selama ini yang menjadi masalah kurang tepatnya sasaran karena banyaknya mobil pribadi yang dianggap golongan mampu yang menggunakan BBM, jadi dengan demikian seharusnya jalan terbaik yang harus diberikan untuk mengatasi masalah subsidi BBM bukan menaikan harga melainkan pembatasan penggunaan BBM Subsidi, yaitu dengan menerapkan kebijakan bahwa BBM bersubsidi hanya dapat dibeli oleh pengguna sepeda motor, angkutan umum dan angkutan barang. Untuk mobil pribadi diwajibkan menggunakan BBM Non Subsidi dan untuk keperluan lain selain kendaraan sebaiknya diatur secara khusus. Kebijakan ini tentu harus diawasi mengingat banyaknyan oknum yang senang bermain dengan BBM.

Alasan pemilik mobil pribadi ‘bandel’ untuk tetap menggunakan BBM Subsidi dikarenakan mahalnya harga pertamax yang cukup menguras kantong bila harus mengisi secara rutin. Kenyataaan yang saya temui, meskipun mampu membeli mobil, yang biasanya dibeli melalui kredit, para pemilik mobil ini umumnya hanya memiliki gaji atau penghasilan pas-pasan untuk hidup. Mereka biasanya memaksakan memiliki mobil hanya untuk kepraktisan dan kenyamanan saat berpergian dengan keluarga mengingat susahnya akses transportasi umum (harus berpindah-pindah angkutan dan tidak adanya transportasi umum untuk keluar dari perumahan hingga ke jalan raya). Dengan demikian, selain diperlukan perbaikan layanan transportasi umum, sepertinya Pertamina segera mengevaluasi harga Pertamax agar tidak terlalu jauh selish harganya dengan BBM Subsidi.

Dua keadaan ini jugalah yang menyebabkan banyaknya antrian kendaraan yang berebut mengisi BBM subsidi saat ditetapkan pembatasan kuota BBM Subsidi oleh Pertamnina, karena bagi mereka, bila dapat membeli BBM Subsidi maka secara otomatis mereka dapat menghemat sekian puluh ribu untuk dapat digunakan membeli keperluan lain. Selain itu, karena ada ketakutan/khawatir tidak akan mendapatkan BBM Subsidi untuk hari-hari ke depan, maka mereka yang biasa mengisi BBM secukupnya untuk satu hari, akan melakukan aksi borong dengan mengisi full tangki-tangki bensin mereka.

Mengatasi kelangkaan dan antrean panjang pembelian BBM Subsidi SPBU di beberapa wilayah saat ini, sebaiknya Pertamina segera mencari tahu apakah penyebab kelangkaan ini dikarena kepanikan masyarakat hingga memborong membeli BBM Susbsidi dalam jumlah banyak atau ada oknum yang sengaja bermain sehingga menyebabkan timbulnya kelangkaan BBM ini.

Bila antrean panjang dan kelangkaan BBM Subsidi hanya disebabkan karena kepanikan masyarakat hingga berlomba-lomba membeli BBM subsidi dalam jumlah yang tidak wajar, maka sebaiknya Pertamina menerapkan kebijakan pembelian maksimum BBM Subsidi per kendaraan, misalnya untuk motor maksimal 2 liter dan mobil hanya 10 liter.(kompasiana)