BERTUAHPOS.COM — Penggunaan AI agentic di Indonesia diproyeksikan melonjak dari 8% saat ini menjadi 44% pada 2030. Proyeksi Ericsson ConsumerLab itu menandai pergeseran cara masyarakat berinteraksi dengan kecerdasan buatan, dari dominasi teks menuju konten yang lebih beragam dan interaktif.
Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menyatakan kesiapan jaringan menjadi penentu utama dalam mengantisipasi perubahan pola penggunaan AI.
“Seiring konsumen memanfaatkan AI melalui berbagai jenis konten dan perangkat, jaringan perlu menghadirkan pengalaman yang cepat, responsif, dan andal, sekaligus memastikan keamanan dan kepercayaan dalam setiap interaksi digital,” kata Nora dalam keterangan pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari enam pasar di Asia dengan lebih dari 40% konsumen yang menggunakan AI multimodal secara intensif. Proporsi konsumen Indonesia diperkirakan mencapai 45%, jauh di atas rata-rata global sebesar 30%.
Secara global, laporan tersebut memperkirakan sekitar dua dari lima konsumen akan memakai teknologi agentic AI pada periode yang sama. Teknologi ini mampu menjalankan tugas tertentu atas nama pengguna, dengan atau tanpa keterlibatan langsung dari pengguna.
Konsumen memperkirakan pendelegasian tugas rutin kepada AI dapat menghemat sekitar satu jam waktu layar per hari. Tugas tersebut mencakup membandingkan produk, mengatur jadwal, hingga mengelola pembelian berulang.
Ketika AI semakin banyak menjalankan tugas di latar belakang, kebutuhan jaringan berpotensi ikut berubah. Aktivitas berkelanjutan akan meningkatkan kebutuhan terhadap konektivitas berlatensi rendah, kapasitas unggah data (uplink) yang memadai, serta performa jaringan yang konsisten dan dapat diprediksi.
Perubahan pola penggunaan AI juga diperkirakan meluas ke perangkat di luar smartphone. Ericsson ConsumerLab memproyeksikan 35% konsumen Indonesia akan menggunakan AI melalui perangkat selain smartphone pada 2030, termasuk kacamata pintar (smart glasses).
Seiring penggunaan AI yang meluas ke berbagai perangkat dan lokasi, jaringan perlu mendukung konektivitas yang responsif dan andal. Kebutuhan ini semakin penting di lingkungan padat, seperti kawasan perkotaan dan lokasi penyelenggaraan acara.
Laporan bertajuk An Agentic Life: How Consumer AI Usage is Shaping Future Network Needs itu menggunakan survei terhadap lebih dari 43.000 pengguna smartphone berusia 15–69 tahun di 27 pasar. Pengumpulan data dilakukan pada Juni–Agustus 2025 serta Februari–Maret 2026.
Nora menegaskan kesiapan infrastruktur telekomunikasi menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna besar AI. “Dengan persiapan yang tepat, Indonesia memiliki peluang untuk terus memperkuat adopsi AI sekaligus mempercepat transformasi digital menuju Visi Indonesia 2045,” kata Nora.*




