BERTUAHPOS – Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) berpeluang menaikkan target suku bunga kebijakan jangka pendek dari 0,5% menjadi 0,75% dalam rapat Dewan Kebijakan yang digelar pada Kamis dan Jumat pekan ini.
Kenaikan suku bunga itu sangat mungkin terjadi sepanjang kondisi pasar tetap stabil dan tidak muncul gangguan signifikan pada perekonomian Jepang maupun global, menurut laporan The Japan News, dikutip Rabu, 17 Desember 2025.
Sejumlah pejabat di bank sentral menilai dampak kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap pendapatan korporasi Jepang masih terbatas. Perusahaan-perusahaan juga diperkirakan tetap mampu memberikan kenaikan upah yang cukup tinggi dalam perundingan antara manajemen dan pekerja pada musim semi mendatang.
Jika kenaikan suku bunga tersebut terealisasi, maka level 0,75% akan menjadi yang tertinggi dalam hampir tiga dekade terakhir. Terakhir kali Jepang mencatat suku bunga kebijakan pada level relatif tinggi terjadi pada 1995, ketika suku bunga diskonto resmi berada di angka 1%.
Gubernur BOJ Kazuo Ueda menyatakan pihaknya terus mengumpulkan informasi terkait sikap dunia usaha terhadap kenaikan upah. Informasi tersebut dihimpun melalui kantor pusat dan kantor cabang bank sentral di berbagai wilayah.
“Kami ingin menilai secara cermat apakah kondisi saat ini tepat untuk menaikkan suku bunga berdasarkan perkembangan tersebut,” kata Ueda dalam pidatonya di Nagoya pada 1 Desember lalu.
Terkait negosiasi perburuhan musim semi yang menjadi perhatian utama BOJ, Ueda menyebutkan bahwa keuntungan perusahaan yang menjadi sumber pendanaan kenaikan upah diperkirakan tetap berada pada level tinggi secara keseluruhan.
Pandangan tersebut juga didukung oleh banyak anggota Dewan Kebijakan BOJ yang memiliki kewenangan dalam menentukan arah kebijakan moneter Jepang.
Dari sisi politik, pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menaruh perhatian besar pada pengendalian inflasi diperkirakan akan menyetujui langkah pengetatan kebijakan moneter tersebut.
Data terbaru menunjukkan Indeks Harga Konsumen Jepang, tidak termasuk makanan segar, naik 3% secara tahunan pada Oktober. Inflasi inti tersebut telah berada di atas target BOJ sebesar 2% selama tiga tahun tujuh bulan berturut-turut.
Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh mahalnya harga barang impor akibat pelemahan yen. Jika suku bunga dinaikkan dan selisih suku bunga Jepang–Amerika Serikat menyempit, kondisi ini berpotensi menahan pelemahan yen yang saat ini berada di kisaran ¥157 per dolar AS.
Sebelumnya, BOJ telah menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 0,5 persen pada Januari lalu dan mempertahankannya dalam enam pertemuan terakhir dengan alasan ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat serta kebijakan tarif yang diterapkan negara tersebut.***









