BERTUAHPOS – Boleh dikatakan, pasar energi global kini berada dalam posisi “siaga satu”. Eskalasi militer yang kian memanas antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel, membuat harga minyak mentah dunia diprediksi akan mengalami lonjakan drastis dalam waktu dekat.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh laporan misi angkatan laut Uni Eropa, Aspides, yang menyebutkan adanya indikasi otoritas Iran mulai menutup akses perlintasan kapal di Selat Hormuz. Jalur ini adalah “urat nadi energi dunia” yang mengalirkan lebih dari 20% pasokan minyak dan Liquefied Natural Gas (LNG) global.
Pasar Bereaksi Sangat Cepat
Menutup perdagangan akhir pekan, Jumat, 27 Februari 2026, harga minyak sudah menunjukkan tren pendakian. Brent melesat 2,45% ke level US$ 72,48 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,78% menjadi US$ 67,02 per barel.
Dilansir dari Investor.id, analis energi dari MST Sydney Saul Kavonic, memperingatkan pemblokiran Selat Hormuz akan menjadi skenario ekstrem yang mengguncang ekonomi dunia.
“Jika Iran menghambat arus melalui Selat tersebut, lebih dari 20% aliran minyak dan LNG global dapat terpengaruh,” ujar Kavonic sebagaimana dikutip dari laman US News, Minggu, 1 Maret 2026.
Dia menyebut, pasar saat ini mulai memperhitungkan risiko gangguan pasokan, mulai dari hambatan ekspor Iran sebesar 2 juta barel per hari hingga potensi serangan terhadap infrastruktur minyak regional.
Menurut pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi, ketegangan ini akan menjadi titik balik krisis energi di tahun 2026.
Menurutnya, lonjakan harga minyak mentah tidak akan terhindarkan dan akan merembet ke produk-produk turunannya.
“(Tensi Israel dan Amerika Serikat dengan Iran) bisa menjadi babak baru konflik di Timur Tengah pada Maret 2026. Dampaknya, kemungkinan besar harga minyak mentah naik,” jelas Ibrahim.
Meskipun pihak Teheran belum merilis konfirmasi resmi terkait penutupan total jalur pelayaran tersebut, para pelaku pasar tetap waspada. Gangguan di Selat Hormuz secara historis selalu memicu volatilitas harga yang ekstrem, karena tidak adanya jalur alternatif yang mampu menampung volume kargo sebesar itu.***









