BERTUAHPOS.COM — Prediksi harga CPO atau minyak mentah kelapa sawit minggu ini condong melemah akibat tekanan harga minyak kedelai dan minyak mentah global.
Kontrak berjangka minyak sawit mentah di Bursa Malaysia Derivatives diperkirakan bergerak dengan bias bearish sepanjang pekan ini.
David Ng, trader internal dari Iceberg X Sdn Bhd, menjelaskan sentimen pasar akan tetap tertekan.
Kondisi ini menurutnya, menyusul pelemahan harga minyak kedelai dan minyak mentah dalam beberapa waktu terakhir.
“Harga diperkirakan akan diperdagangkan antara RM4.450 dan RM4.600 per ton minggu depan,” kata David Ng, dikutip dari Bernama, Senin, 13 Juli 2026.
Menurut data Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB), kondisi yang sama turut memengaruhi pergerakan pasar pekan ini.
Stok minyak sawit Malaysia tercatat naik 4,78 persen atau 116.123 ton menjadi 2,54 juta ton pada Juni, sementara produksi CPO meningkat 8,08 persen menjadi 1,64 juta ton.
Ekspor minyak sawit turut tumbuh 6,19 persen menjadi 1,20 juta ton pada Juni dibandingkan bulan sebelumnya.
Di sisi lain, ekspor inti sawit justru turun 2,64 persen menjadi 83.712 ton meski produksinya naik 8,16 persen menjadi 381.480 ton.
David Ng menjelaskan, kombinasi data stok yang melimpah dan pelemahan komoditas substitusi memperberat laju harga CPO pekan ini.
“Investor masih mempertimbangkan pergerakan harga minyak mentah dan minyak kedelai sebagai acuan utama sebelum mengambil posisi baru,” ujarnya.
Di tengah tekanan tersebut, peluncuran program biodiesel B50 wajib di Indonesia turut menjadi perhatian pasar.
Pemerintah memperkirakan kebijakan ini akan mendorong permintaan domestik CPO naik menjadi 16,3 juta hingga 17 juta ton, sekaligus menghapus ketergantungan impor diesel untuk pertama kalinya.
David Ng menyebut kebijakan B50 berpotensi menjadi penopang harga dalam jangka menengah meski tekanan jangka pendek masih dominan.
“Faktor domestik Indonesia seperti B50 bisa menjadi penyeimbang, tetapi dampaknya belum sepenuhnya terasa pekan ini,” katanya.
Secara mingguan, kontrak Juli 2026 naik RM16 menjadi RM4.455 per ton, sedangkan kontrak Desember 2026 melonjak RM53 menjadi RM4.612 per ton.
Volume perdagangan turut meningkat menjadi 431.847 lot dari 314.563 lot pada pekan sebelumnya, sementara open interest turun menjadi 286.062 kontrak.
“Pasar masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan harga minyak nabati global dan data MPOB berikutnya,” ujar David Ng.









