BERTUAHPOS.COM — Pemerintah menargetkan 70 persen lulusan pendidikan vokasi harus mampu terserap oleh lapangan pekerjaan. Oleh sebab itu, Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) didorong agar pelatihan menyesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengatakan BPVP perlu dikelola sebagai pusat pelatihan berstandar tinggi dengan budaya belajar kuat dan jaringan alumni terintegrasi.
“Kita harus mengejar bagaimana balai-balai pelatihan ini bisa memberikan kemanfaatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat,” ujar Yassierli.
Dia menyebut, Kemenaker akan menerapkan tracer study paling lambat 2 bulan setelah pelatihan selesai. Mekanisme ini digunakan untuk menelusuri rekam jejak alumni di pasar kerja sebagai bagian dari evaluasi hasil pelatihan.
Kemenaker juga mendorong model pelatihan yang melibatkan industri, pemerintah daerah, kawasan industri, hingga badan usaha milik negara (BUMN). Melalui pendekatan demand driven, peserta mendapatkan pelatihan di balai yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. Dengan begitu, peluang kebekerjaan pasca pelatihan dapat meningkat.
Selain menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri, BPVP diarahkan untuk memperluas layanan. Layanan itu meliputi pelatihan bagi penyandang disabilitas, Labor Productivity Clinics bagi industri menengah, serta Talent & Innovation Hub sebagai pusat inovasi.
“Jadi tidak hanya vokasi, di setiap balai nantinya akan ada Talent Innovation Hub, lengkap dengan pengantar kerja bagi disabilitas dan klinik produktivitas,” tutur Yassierli.
Transformasi ini diharapkan membuat pelatihan vokasi lebih responsif terhadap kebutuhan pasar kerja. Budaya belajar kuat dan jaringan alumni terintegrasi menjadi kunci. Dengan demikian, pelatihan vokasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Target 70% kebekerjaan menjadi ukuran keberhasilan. Kemenaker menekankan pentingnya kolaborasi dengan dunia usaha. Evaluasi melalui tracer study akan menjadi dasar perbaikan pelatihan.
Yassierli menegaskan BPVP harus menjadi pusat pelatihan berstandar tinggi. “Kita harus mengejar bagaimana balai-balai pelatihan ini bisa memberikan kemanfaatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat,” ujarnya.









