BERTUAHPOS — Tidak kurang dari 90 ribu kapal melintas di Selat Malaka setiap tahunnya, menurut data PT Pelindo (Persero), sehingga selat yang menjadi penghubung Indonesia – Malaysia itu, menjadi salah satu rute penting perdagangan dunia terutama untuk pengiriman energi seperti minyak dan gas alam cair.
Menurut Komisaris PT Pelindo Arief Poyuono, Selat Malaka telah menjadi jalur utama perdagangan global dengan porsi sekitar 30% arus perdagangan dunia. “Posisi strategis tersebut memungkinkan Indonesia terlibat aktif dalam perdagangan internasional dan terhubung langsung dengan berbagai pasar global,” katanya beberapa waktu lalu.
Jalur ini, kata dia, memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera. Kawasan ini dinilai dapat berkembang menjadi pusat maritim, industri, dan pariwisata, sekaligus membuka peluang perdagangan lintas batas berskala kecil di wilayah pesisir.
Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar di 8%, Arief mendorong pemerintah memaksimalkan posisi Selat Malaka melalui proyek infrastruktur strategis. Fokusnya mencakup pengembangan kawasan ekonomi, investasi, serta industri pelabuhan transshipment bertaraf internasional.
Beberapa proyek yang dinilai krusial antara lain pengembangan Pelabuhan Dumai dan penetapan pelabuhan ship to ship (STS) untuk angkutan BBM, minyak mentah, dan LNG di Pulau Nipah.
Meski memiliki posisi strategis, Arief mengakui Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangga dalam memanfaatkan potensi ekonomi Selat Malaka. Keterbatasan infrastruktur dan layanan pelabuhan menjadi tantangan utama yang perlu segera dibenahi.
Karena itu, ia menilai peningkatan konektivitas, efisiensi logistik, dan pengembangan kawasan industri di sepanjang pantai Sumatra harus menjadi prioritas. Langkah ini diharapkan mampu mengubah Selat Malaka menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang berdampak luas bagi daerah sekitar.
Arief juga menyinggung posisi Indonesia sebagai anggota baru BRICS. Keanggotaan ini dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk menawarkan jalur transportasi yang stabil dan kompetitif bagi negara-negara mitra, termasuk Tiongkok, melalui kebijakan tarif yang menarik.
Sebagai perbandingan, Arief menyoroti keberhasilan Singapura dan Malaysia yang telah menjadikan pelabuhan mereka sebagai pusat transshipment global, seperti Port Klang dan Tanjung Pelepas. Ia mengingatkan, tanpa percepatan pembangunan, Indonesia berisiko hanya menjadi penonton di salah satu jalur perdagangan tersibuk dunia.***









