BERTUAHPOS — Ekonomi Provinsi Riau menunjukkan tren positif pada triwulan pertama 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp293,41 triliun. Sementara PDRB atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp145,34 triliun.
“Secara tahunan (year-on-year), ekonomi Riau tumbuh sebesar 4,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan di sejumlah sektor strategis,” kata Kepala BPS Provinsi Riau Asep Riyadi di Pekanbaru.
Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 15,04 persen. Kinerja positif juga terlihat dari sisi pengeluaran, di mana Komponen Ekspor Luar Negeri tumbuh signifikan sebesar 14,98 persen.
Namun, dia menambahkan, bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter), ekonomi Riau mengalami kontraksi sebesar 0,29 persen. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya aktivitas beberapa sektor.
Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi terdalam sebesar 12,70 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mencatat penurunan tajam sebesar 19,88 persen, seiring dengan berakhirnya realisasi belanja awal tahun.
Kendati demikian, kinerja ekonomi Riau tetap mencatatkan capaian yang lebih solid jika dihitung tanpa sektor minyak dan gas (migas). Ekonomi Riau tanpa migas tumbuh sebesar 5,59 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan pertama 2024 yang sebesar 3,95 persen. Hal ini menunjukkan bahwa diversifikasi ekonomi di luar sektor migas mulai memberikan dampak positif terhadap struktur ekonomi daerah.
Secara spasial, kontribusi Riau terhadap perekonomian nasional mencapai 5,16 persen. Posisi ini menjadikan Riau sebagai provinsi dengan PDRB terbesar keenam secara nasional dan peringkat kedua di luar Pulau Jawa, setelah Kalimantan Timur.
“Capaian ini mencerminkan peran strategis Riau dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya di kawasan Sumatera. Untuk mempertahankan momentum positif ini, diperlukan sinergi antara sektor industri, perdagangan, dan penguatan daya beli masyarakat, serta percepatan realisasi anggaran belanja pemerintah di kuartal berikutnya,” ujarnya.***









