BERTUAHPOS.COM — Arab Saudi mengkaji perluasan pipa minyak menuju Laut Merah untuk memangkas ketergantungan pada Selat Hormuz. Langkah ini berpotensi mengubah peta distribusi minyak global.
Managing Partner Hardcastle Advisory Zaid Belbagi mengatakan, diskusi koridor pipa baru mencerminkan perubahan strategi kawasan pascakonflik. Rencana ini dinilai sebagai respons langsung terhadap risiko geopolitis yang terpapar selama perang Iran.
“Perang membuat negara-negara di kawasan Teluk menyadari risiko terlalu bergantung pada Selat Hormuz,” ujarnya dikutip dari Reuters, Rabu, 8 Juli 2026.
Pipa East-West yang dibangun awal 1980-an kini mampu mengangkut hingga 7 juta barel per hari (bph) menuju pelabuhan Yanbu. Sekitar 5 juta bph dialokasikan untuk ekspor dan sisanya memasok kilang pesisir barat.
Arab Saudi mempertimbangkan penambahan kapasitas hingga 2 juta bph. Proyek ini diperkirakan menelan biaya miliaran dolar dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diselesaikan.
CEO Kuwait Petroleum Corporation, Sheikh Nawaf Al-Sabah, mengonfirmasi keterlibatan negaranya dalam pembicaraan awal.
“Kami sedang berdiskusi dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk melihat bagaimana sistem pipa yang mereka miliki dapat diperluas agar mampu menampung ekspor minyak Kuwait,” katanya.
Kuwait, Bahrain, dan Qatar hingga kini belum memiliki jalur pipa alternatif yang dapat memotong Selat Hormuz. Infrastruktur pipa Irak menuju Turki juga masih beroperasi jauh di bawah kapasitas akibat sengketa berkepanjangan.
Salah satu sumber industri menyebut ekspansi Arab Saudi mengindikasikan pergeseran persaingan kawasan.
“Ini bisa menjadi perlombaan produksi minyak yang berpotensi menekan harga minyak global,” ujarnya.
Uni Emirat Arab telah menyelesaikan separuh pembangunan pipa West-East baru yang akan menggandakan kapasitas pengiriman menuju Fujairah mulai tahun depan. Jalur pipa Abu Dhabi yang sudah beroperasi saat ini mampu mengalirkan hingga 1,8 juta bph.









