BERTUAHPOS.COM — Meracik kopi liberika Meranti menjadi menjadi tantangan tersediri bagi Alamsyah, seorang peserta yang ikut kompetisi barista dalam ajang Karya Riau Bertuah 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau, di Mal Living World Pekanbaru, Rabu, 1 Juli 2026.
Di kompetisi barista bertajuk ‘Riau Ber-Coffee’ itu, Alamsyah harus adu keahlian menyeduh kopi liberika Meranti dengan 26 peserta yang tidak lain adalah para barista dan pecinta kopi di Riau.
Para peserta diberi waktu hanya 5 menit untuk menyajikan hasil seduhan kopi terbaik mereka lewat kecapan para juri. Namun, Alamsyah mengaku, meracik liberika Meranti memang bukan perkara mudah.
“Tantangannya beda. Mengolah liberika dalam kompetisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya,” ujar perwakilan dari Untung Terus Kopi Tiam Siak itu saat berbincang dengan Bertuahpos, Rabu, 1 Juli 2026, di lokasi acara.
Saat kompetisi berlangsung, pecinta kopi sejak 2017 ini memilih menggunakan Aeropress untuk memudahlan pekerjaannya dalam meracik kopi lokal ini. Alat manual multifungsi itu sengaja dia pilih agar bisa memaksimalkan waktu. Dia menjadi satu-satunya peserta yang mengginakan Aeropress dalam kompetisi kali ini.
“Kalau pakai alat lain, saya khawatirnya tidak bisa memanfaatkan waktu maksimal, karena penyeduhan kopinya hanya mengandalkan grafitasi. Kalau pakai alat ini, saya bisa press dengan tenaga dan pastinya lebih cepat,” ujarnya.
Terbukti, pada menit keempat atau 1 menit menjelah habis waktu, Alamsyah sudah beres dengan seduhannya, meski dia belum bisa tampil sebagai yang unggul dari lidah juri.
“Kalau soal rasa itu ada banyak faktor. Selain alat, suhu air dan ukuran gilingan lebih dominan menentukan kualitas rasanya. Jenis kopinya juga sangat berpengaruh,” tambahnya.
“Ini tantangan bagi kami di industri kopi. Kopi itu yang dinilai kompleksitasnya, semuanya harus balance, jangan sampai ada satu rasa yang lebih dominan,” kata Alamsyah.
Kendati demikian, kompetisi ini bukan soal menang atau kalah. Bagi Alamsyah, ini merupakan ajang hiburan yang memiliki berperan signifikan terhadap eksistensi kopi lokal liberika Meranti. Dia sadar betul bahwa komoditas lokal itu, kini sedang dalam lingkaran ironi. Kopi yang menjadi kebanggaan Riau, justru sangat jarang digunakan oleh industri kopi lokal dalam seduhan keseharian.
“Harapannya ke BI Riau sebagai penyelenggara agar lebih terbuka lagi. Acara-acara seperti ini bagimana cakupannya bisa lebih banyak dan lebih luas. Sehingga tidak hanya parista kelas coffee shop, tapi penyeduh rumahan (home brewer) atau pencinta kopi bisa ikut,” ujarya.
Dalam event tahunan Karya Riau Bertuah 2026 ini, Kpw BI Provinsi Riau menghadirkan puluhan barista dan para pecinta kopi lokal di ajang kompetisi barista bertajuk Riau Ber-Coffee.
Kepala Tim Implementasi KEKDA KPw BI Provinsi Riau Hafidh Amrullah mengatakan, Kompetisi ini merupakan wadah bagi barista lokal Riau untuk unjuk kebolehan mengolah kopi liberika menjadi suguhan yang bisa dinikmati oleh juri dan para pecinta kopi.
Sebanyak 27 peserta terpilih berhasil lolos dari jumlah pendaftar yang membludak melebihi kuota. “Kita ingin teman-teman pelaku kopi di Riau bisa melangkah lebih jauh dalam mengolah dan mengangkat nilai kopi liberika,” ujarnya.
Bekerja sama dengan Komunitas Orang Kopi Riau, kompetisi barista menggunakan kopi liberika Meranti ini merupakan bagian dari upaya BI Provinsi Riau untuk memperkenalkan potensi lokal secara langsung. Masyarakat juga bisa mencicip hasil racikan para barista di pojok kopi yang telah disediakan. Total hadiah sebesar Rp15 juta disiapkan untuk para pemenang kompetisi.









