Wow, Menggiurkannya Bisnis Seks di China

Senin, 02 Desember 2013 12:14

BERTUAHPOS.COM – Chen Weizhou tak canggung atau jengah saat menyentuh dan mengamati sepasang boneka perempuan di sudut kota Guangzhou. Di atas boneka ada video berisi instruksi bagaimana boneka itu dipakai sebagai partner seks.

Supir bus berusia 46 tahun itu memang sengaja datang ke Guangzhou untuk menikmati festival yang unik, Festival Budaya Seks Nasional. “Untuk bersenang-senang saja,” katanya pada pekan lalu. Matanya sendiri tak beralih dari sepasang boneka yang memakai lingerie seksi itu.

Advertisement

Weizhou tak mengajak istrinya. Dia bilang ingin kembali menyelami misteri seks yang dirasakannya ketika masih mudah. “Ketika menikah, segalanya terasa tawar,” katanya, mengeluh.

Festival tahunan yang sudah memasuki tahun ke-11 itu memang sengaja ditujukan bagi pasangan menikah. Temanya tahun ini adalah “Seks sehat, keluarga gembira”. Tapi yang datang ke sana kebanyakan pria.

Baca: Pascalebaran Harga TBS Sawit di Riau Turun

Itu ada kaitan dengan ketidakseimbangan populasi antara pria dan perempuan di China. Sejak kebijakan Satu Anak diterapkan pada awal 1980, populasi pria semakin banyak melebihi populasi perempuan.

Rasio angka kelahirannya adalah 118 kelahiran anak lelaki untuk 100 kelahiran anak perempuan. Itu data tahun lalu. Di Provinsi Guangdong, kawasan yang berisi 30 juta pekerja migran, sedikitnya populasi perempuan membuat lelaki lajang tak punya banyak pilihan.

Makanya, seks kemudian berkembang menjadi bisnis besar di China. Mulai dari salon plus-plus, ‘selimut’ di kamar-kamar hotel, sampai maraknya penjualan sex toys di toko maupun Internet. Anda tahu, kebanyakan sex toy yang beredar di dunia adalah bikinan China.

Menurut media setempat, ada lebih dari 1.000 perusahaan China yang membuat 70 persen sex toy di dunia. Pendapatannya mencapai US$ 2 miliar per tahun, menurut data 2010.

Wajah bisnis seks ini bertolak belakang dengan sikap keras pemerintah negeri komunis itu terhadap pornografi. Meski di sisi lain, moralitas penguasa juga dipertanyakan setelah terungkapnya skandal-skandal seks.

Seperti pada Juni lalu, seorang pejabat pemerintah dihukum 13 tahun penjara dalam kasus korupsi setelah sebelumnya terekam dalam sebuah video bersama perempuan 18 tahun di atas ranjang. Skandal itu hanya berselang tiga bulan dari peredaran foto seorang pejabat partai dan istrinya, yang dikelilingi empat orang lainnya. Mereka semua telanjang bulat.

Supaya festival seks itu tak berkesan murahan, organisasi kesehatan pemerintah membuka booth di salah satu sudut area festival. Tapi sayangnya, sedikit sekali orang yang mau berkunjung ke sana. Hampir semua pengunjung lebih suka yang seksi-seksi.

“Banyak lelaki memotret saya seharian,” kata seorang model bikini, Liang Lin, 23 tahun.

Tak jauh dari sana, kerumunan pria menunggu kehadiran bintang porno Jepang, Rei Mizuna. Begitu dia keluar, lengkap dengan pakaian yang seksinya, para pria itu langsung menghujaninya dengan lampu-lampu kilat dari kamera masing-masing.

Begitu juga stand pameran dari industri sex toy. Transaksi jual beli di sana lancar jaya. Bahkan boneka nan mahal buatan Buccone berbanderol US$ 6.400 pun laku keras.

Boneka buatan Buccone bisa dipesan khusus. “Ada beberapa pria yang datang membawa foto istrinya dan minta dibikinkan bonekanya,” kata Nie Tai, 23 tahun, seorang pramuniaga di sana.

Begitu juga bisnis perusahaan lingerie, seperti Toylace. Banyak pria yang datang ke sana, tentu tanpa istrinya, dan membeli koleksi-koleksi Toylace. “Mereka sih bilang beli untuk istrinya, tapi siapa yang tahu kebenarannya,” tutur Huang Yulong, staf di perusahaan itu, sambil terkekeh.

Perusahaan kondom tak mau ketinggalan. Mulai dari kondom warna-warni sampai yang bisa dikecap karena rasanya manis seperti permen lolipop.

Inilah negeri di mana perbincangan soal seks masih dianggap tabu, tapi terbukti, seks adalah komoditas industri yang mendatangkan devisa dan pemasukan negara.(detik.com)