BERTUAHPOS — Pemerintah Provinsi Aceh meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menindaklanjuti secara serius laporan mahalnya harga tiket pesawat dari Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, di tengah situasi bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut. Permintaan ini disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, pada Rabu, 3 Desember 2025.
Faisal mengatakan pihaknya menerima informasi viral dari penumpang yang mengeluhkan lonjakan harga tiket pesawat Wings Air dan Susi Air pada rute Rembele–Kualanamu dan Rembele–Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM). Dalam laporan itu, harga tiket Wings Air disebut mencapai Rp 3,5 juta per orang.
Sementara itu, penerbangan Susi Air yang beroperasi menggunakan sistem carter dilaporkan mencapai harga Rp 8 juta dari Rembele menuju Bandara SIM Aceh Besar. Kenaikan ini memicu keresahan masyarakat karena terjadi di tengah kondisi darurat.
Dishub Aceh telah berkoordinasi dengan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub untuk menelusuri penyebab kenaikan harga tersebut. “Mereka sedang meneliti terkait hal ini. Kita tunggu saja hasilnya,” kata Faisal.
Ia berharap Kemenhub mengambil langkah cepat mengingat Aceh sedang mengalami bencana besar yang berdampak pada 18 kabupaten/kota. Daerah dataran tinggi seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara termasuk wilayah yang terdampak parah.
Kabupaten Bener Meriah dilaporkan masih terisolir hingga Rabu akibat jalan dan jembatan menuju wilayah tersebut lumpuh total. Akses darat terputus sehingga pergerakan warga, relawan, dan logistik hanya mengandalkan jalur udara.
Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Carmelita Hartoto, menegaskan bahwa harga tiket pesawat harus tetap terjangkau selama bencana. Ia mengingatkan bahwa mobilitas masyarakat dan layanan kemanusiaan harus menjadi prioritas.
“Kami prihatin atas laporan kenaikan harga tiket di wilayah terdampak banjir dan longsor. Transportasi harus tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat,” kata Carmelita di Jakarta. Ia menyebut Kadin terus memantau dinamika tarif penerbangan di Aceh.
Kadin Indonesia juga menjalin koordinasi dengan asosiasi maskapai, Indonesia National Air Carriers Association (INACA), untuk memastikan adanya komunikasi konstruktif dengan operator penerbangan. Tujuannya agar layanan udara tetap berjalan normal dan mendukung upaya kemanusiaan.
Carmelita menegaskan komitmen Kadin Indonesia dalam mendukung pemulihan di wilayah terdampak bencana, baik di Aceh, Sumatera Utara maupun Sumatera Barat. Ia menekankan pentingnya kelancaran pergerakan relawan, tenaga medis, logistik, dan warga di tengah situasi darurat.***
Sumber: Republika.co.id









