BERTUAHPOS — Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali menguat pada perdagangan Rabu, 27 Agustus 2025, setelah terkoreksi dua hari berturut-turut.
Di Bursa Malaysia Derivatives (BMD), kontrak CPO pengiriman November ditutup di level MYR 4.489 per ton atau naik 0,46% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Sebelumnya, harga CPO sempat turun 1,35% dalam dua hari terakhir secara point-to-point.
Selain itu, kabar soal CPO Indonesia mendapat pengecualian dari tarif bea masuk 19% yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juta turut mendongkrak harga CPO.
Meski produk asal Indonesia dikenakan bea masuk mulai 7 Agustus, kebijakan itu diperkirakan tidak berlaku untuk komoditas kakao, karet, dan CPO.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor CPO Indonesia ke AS pada periode Januari–Mei 2025 mencapai US$713,02 juta.
AS menjadi pasar ekspor terbesar keempat setelah China, India, dan Pakistan. Harapan tetap terbukanya pasar AS mendorong harga CPO naik.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group Mumbai, Anilkumar Bagani, menyatakan pengecualian produk sawit Indonesia dari tarif impor 19% di AS memberi sentimen positif.
“Namun, permintaan yang melambat dari negara tujuan, selain China, membatasi penguatan harga,” katanya kepada Bernama.
Secara teknikal, harga CPO hari ini masih berada di zona bullish, menurut analisa Bloomberg Technoz.
Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 60 atau di atas ambang 50 yang menunjukkan tren penguatan.
Namun, Stochastic RSI berada di 30 yang menandakan potensi tekanan jual.
Untuk perdagangan hari ini, harga CPO diperkirakan menyimpan risiko koreksi.
Level support terdekat berada di MYR 4.482 per ton (MA-5), kemudian MYR 4.464 per ton (MA-10). Jika tekanan berlanjut, support lanjutan berada di kisaran MYR 4.365–4.180 per ton.
Sementara itu, pivot point berada di MYR 4.499 per ton. Dari titik ini, harga CPO berpotensi menguji resisten di MYR 4.519 per ton dengan target optimistis di MYR 4.633 per ton.***









