BERTUAHPOS – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali ditutup lebih rendah pada Rabu, 22 Oktober 2025. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan produksi dan meningkatnya stok di dalam negeri.
Analis pasar komoditas, David Ng, mengatakan peningkatan produksi yang diperkirakan terjadi dalam beberapa pekan ke depan menjadi faktor utama tekanan harga. “Harga masih memiliki penopang di kisaran RM4.380 per ton, dengan batas atas di RM4.540 per ton,” ujarnya dikutip dari Bernama, Kamis, 23 Oktober 2025.
Pada perdagangan penutupan, kontrak CPO untuk pengiriman November 2025 turun RM46 ke level RM4.401 per ton. Sementara kontrak Desember 2025 dan Januari 2026 masing-masing melemah RM49, ditutup di RM4.426 dan RM4.456 per ton.
Kontrak Februari 2026 juga mengalami penurunan RM46 ke posisi RM4.468 per ton, diikuti kontrak Maret 2026 yang turun RM31 menjadi RM4.462 per ton. Sedangkan April 2026 melemah RM27 ke RM4.448 per ton.
Meski harga menurun, aktivitas perdagangan meningkat tajam. Total volume naik menjadi 109.930 lot dibandingkan 64.163 lot pada sesi sebelumnya. Sementara itu, open interest atau jumlah kontrak terbuka sedikit berkurang menjadi 277.711 dari 279.217 kontrak.
Di pasar fisik, harga CPO wilayah Selatan Malaysia juga terkoreksi RM30 ke posisi RM4.430 per ton. Kondisi ini memperlihatkan tekanan jual masih kuat di pasar, terutama karena faktor pasokan yang melimpah.
Pelaku pasar menilai harga CPO dalam waktu dekat kemungkinan masih akan bergerak terbatas. Faktor cuaca, hasil panen tandan buah segar, serta kebijakan ekspor Indonesia dan Malaysia diperkirakan akan menjadi penentu arah harga berikutnya.
Sementara itu, pelaku industri menantikan laporan resmi dari Malaysia Palm Oil Board (MPOB) yang akan dirilis bulan depan. Data ini dianggap penting untuk melihat seberapa besar dampak kenaikan produksi terhadap keseimbangan stok dan harga di pasar global.***









