BERTUAHPOS.COM — Kementerian Perdagangan mencatat harga CPO atau minyak kelapa sawit mengalami penurunan pada periode Juni 2026. Penurunan itu langsung berdampak pada perubahan tarif bea keluar ekspor komoditas unggulan Indonesia tersebut. Harga referensi CPO untuk Juni 2026 ditetapkan sebesar US$1.029,51 per metrik ton, turun 1,91 persen dibandingkan periode Mei 2026.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, sebagaimana dikutip Bertuahpos, Sabtu, 30 Mei 2026. “Berdasarkan PMK yang berlaku, pemerintah mengenakan bea keluar CPO sebesar US$148 per metrik ton dan pungutan ekspor CPO sebesar 12,5 persen dari harga referensi CPO periode Juni 2026, yaitu sebesar US$128,68 per metrik ton,” ujarnya.
Penurunan harga CPO turut menggeser tarif bea keluar menjadi US$148 per metrik ton, turun dari bulan sebelumnya yang berada di level US$178 per metrik ton. Penetapan tarif ini mengacu pada PMK 38/2024 sebagaimana telah diubah dengan PMK 68/2025, di mana kolom 8 Lampiran Huruf C PMK tersebut mengatur tarif bea keluar yang berlaku berdasarkan harga referensi CPO pada periode 1 hingga 30 Juni 2026.
“Regulasi tersebut menetapkan harga referensi CPO di atas US$680 per metrik ton dikenai bea keluar, pengaturan yang bertujuan mengantisipasi perubahan harga di pasar global sekaligus mendukung kebijakan hilirisasi sawit nasional,” jelasnya.
Dia menambahakn, penetapan harga referensi CPO bersumber dari rata-rata harga selama periode 20 April hingga 19 Mei 2026 pada tiga sumber yakni Bursa CPO Indonesia sebesar US$920,80 per metrik ton, Bursa CPO Malaysia sebesar US$1.138,22 per metrik ton, dan harga Port CPO Rotterdam sebesar US$1.429,40 per metrik ton.
Merujuk pada Permendag 46/2022, karena perbedaan harga rata-rata ketiga sumber tersebut melebihi US$40, perhitungan harga referensi CPO menggunakan rata-rata dari dua sumber harga yang menjadi median dan sumber harga terdekat dari median. Berdasarkan mekanisme itu, harga referensi dihitung dari Bursa CPO Malaysia dan Bursa CPO Indonesia, sehingga ditetapkan sebesar US$1.029,51 per metrik ton.
“Harga referensi CPO periode Juni 2026 turun dibandingkan periode Mei 2026 akibat penurunan permintaan dari negara importir utama seperti India,” ujar Tommy.
Penurunan permintaan dari India ini menjadi faktor dominan yang menekan harga CPO di pasar global pada periode tersebut.
Sementara itu, harga referensi biji kakao untuk Juni 2026 justru bergerak berlawanan arah, ditetapkan sebesar US$3.832,17 per metrik ton atau naik 17,24 persen dari bulan sebelumnya. Kenaikan ini berdampak pada lonjakan harga patokan ekspor biji kakao menjadi US$3.511 per metrik ton, naik 18,53 persen dari periode sebelumnya.
Kenaikan harga referensi dan harga patokan ekspor biji kakao dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar secara signifikan. Penurunan pasokan dari Nigeria juga turut mendorong kenaikan harga komoditas tersebut di pasar internasional.
Bea keluar biji kakao untuk Juni 2026 merujuk pada kolom 4 Lampiran Huruf B PMK 38/2024 sebagaimana diubah PMK 68/2025, ditetapkan sebesar 7,5 persen — turun dari sebelumnya 15 persen untuk ekspor biji kakao seharga lebih dari US$3.500 per ton. Di sisi lain, melalui PMK 68/2025 yang terbit akhir 2025, pemerintah juga menetapkan getah pinus yang masuk pos tarif ex 1301.90.90 kini turut dikenai bea keluar sebesar 25 persen.









