Mitos Banjir Kampar dari Meriam Lelo Hingga Naga

Sabtu, 13 Februari 2016 19:07

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU- Banjir yang melanda Kabupaten Kampar, Provinsi Riau disebut musibah terparah setelah 1978. Saat di mana waduk PLTA Koto Panjang belum berdiri.

Kendati saat ini banjir mulai surut dan ribuan pengungsi sudah kembali, mulai membersihkan rumah masing-masing. Sempat terbersit kisah mistis yang menyertai peristiwa banjir ini.

Seperti penuturan warga Tanjung Bungo Kecamatan Kampar Timur, Syamsudin (61). Dengan tanggan bergetar dirinya menceritakan dengan penuh yakin bahwa sebelum banjir besar datang sempat terdengar bunyi keras seperti letusan di langit. “Kuat bunyinya sampai orang dari mana-mana datang ke sini bertanya sumber asal suara ledakan. Tapi yang ditanya tidak ada satu pun yang bisa menjawab. Makanya kami percaya itu bunyi lelo,” katanya Sabtu (13/02/2016).

Suara lelo dipercaya dari cerita masyarakat yakni sejenis meriam terbuat dari bambu milik Datuok Rajo Koto. Dan masyarakat di “Serambi Mekkah” percaya suara itu pertanda akan datangnya banjir besar. “Karena tahun 1978 juga bunyi besar sepertu itu,” kata Syamsudin sambil sesekali menepuk pahanya sendiri.

Baca: Tokoh Masyarakat Harap Korban Banjir di Riau Tabah

Dari penuturan warga suara letusan lelo terdengar oleh sebagian amsyarakat di Kabupaten Kampar pada Selasa (09/02/2016) sekitar tengah hari saat matahari sedang tinggi. Terlepas dari percaya atau tidak atau ini sebuah mitos, saat ini sebagian besar wilayah Kampar sudah terendam banjir.

Sedangkan Dinal (28) yang satu desa dengan Syamsudin menuturkan dari kisah turun temurun memang dikenal suara lelo sebagai petanda datang banjir besar. “Kalau yang diceritakan memang seperti itu, dan percaya tidak percaya memang sehabis bunyi besar air meluap dengan cepat datang,” sebutnya.

Bahkan kata Dinal, dari cerita yang didapat dari orang-orang tua kampung. Banjir kampar juga tak jarang diakibatkan naga yang mau keluar. “Untung saja saat banjir naga tidak keluar,” katanya.

Menurut sejumlah sejarah letusan Lelo Datuk Koto, bisa terdengar di seluruh wilayah kabupaten Kampar. Warga Kabupaten Kampar mempercayai hal itu sebuah pertanda alam.

Namun tidak semua yang mempercayai hal itu. Bahkan Agus, tetua di Desa Muara Jalai Kecamatan Kampar Utara, mengatakan tidak mendengar letusan Lelo seperti yang ramai dibicarakan. “Tidak ada dengar yang seperti itu,” katanya.

Agus lebih memaknai musibah banjir ini sebagai teguran tuhan kepada pemimpin yang tidak bisa mensejahterakan rakyatnya. “Makanya didatangkan bala bencana. Ujian untuk pemimpin, dan masyarakat juga ditunjukkan oleh Allah SWT seperti apa pemimpinnya jika rakyat terkena musibah,” katanya.

Namun menurut Pengamat Lingkungan, Dr Erviriadi SPi MSi, banjir yang melanda sebagian wilayah Kampar terutama yang berada dekat dengan aliran sungai akibat adanya kerusakan ekosistem pada hulu waduk PLTA Koto Panjang. “Ini mengindikasikan bahwa ada kerusakan, alih fungsi lahan pada hulu PLTA,” sebutnya.

Dosen UIN Suska Riau ini menguatkan dengan banjir yang membawa lumpur, menunjukkan bahwa adanya pengikisan di daerah hutan. “Karena kalau hutan masih ada tidak ada alih fungsi lahan, maka saat hujan turun pasti akan melewati kawasan tangkapan air yang mencegah terjadinya kikisan tanah,” katanya.

Lalu banjir juga disebabkan waduk PLTA Koto Panjang alami sedimentasi atau pendangkalan. Sehingga saat hujan deras debit air naik dengan cepat, meluap sehingga mau tidak mau pintu air dibuka, supaya tidak jebol.

“Jadi pemerintah harus melakukan perbaikan ekosistem di daerah-daerah tangkapan air jangan dialih fungsikan. Kalau ada perusahaan di sana cabut saja izinnya. Lalu harus dilakukan pengerukan pada waduk supaya dalam lagi. Kalau langkah ini tidak dilakukan bisa saja lima tahun lagi PLTA Koto Panjang jebol,” kira Elviriadi. (Riki)