Masyarakat Menjerit, Harga Karet di Bengkalis Semakin Anjlok

Senin, 08 Februari 2016 15:47

BERTUAHPOS(BPC),BENGKALIS– Harga karet (Ojol) di Kabupaten Bengkalis, hingga saat ini terus mengalami penurunan harga. Pada Senin (08/02/2015), harga karet di Kabupaten itu berkisar di harga Rp 4.000 per kilogramnya. Sedangkan untuk harga buah Pinang diharga  Rp17000 per kilogramnya.

Malihat selisih harga yang begitu jauh, sejumlah petani karet di Kabupaten Bangkalis semakin terpuruk. Para petani karet itu mulai mengeluhkan kondisi sulitnya ekonomi, sementara dengan situasi seperti ini, tentu saja hasil panen karet akan turun kualitasnya.

Yusuf, seorang petani karet di Desa Katam Putih, Kabupaten Bangkalis, Riau mengatakan bahwa beberapa waktu lalu, harga ojol sempat naik ke harga Rp.6000 per kilogramnya. Namun saat ini harga komoditi itu kembali turun di harga sekarang turun Rp.4000 per kilogramya.

“Duhulunya harga karet mencapai 20 ribu rupiah per kilogram. saya terpaksa menjalani kerja ini, karena rata-rata dari masyarakat di sini berpenghasilan dari menoreh karet,” katanya.

Baca: Fly Over Harapan Raya Terkena Dampak Demo Driver Angkutan Online

Meski terasa berat, masyarakat dikabupaten itu terpaksa harus menjalani aktifitas tersebut mengingat, sebab sebagian besar dari perekonomian keluarga memang bergantung pada harga karet.

Menurut pengakuan, Yusuf, jika dibanding dengan harga besar, yang saat ini sekitar Rp 10 ribu perkilogramnya, jelas saja penghasilannya dari hasil memotong karet tidak cukup. Belum lagi hitung-hitungan soal kebutuhan pokok lainnya, dan kebutuhan pendidikan anak

“Semuanya mahal-mahal dan melonjak naik, kami sebagai masyarakat kecil tak bisa berbuat apa-apa lagi, dan hidup dalam keadaan susah bergini. Bagi masyarakat yang mempunyai modal lebih bisalah pindah usaha ke buah pinang, karena harga pinang lebih mahal sekarang, mencapai harga 17 ribu rupiah per kilogramnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini tidak sedikit masyarakat yang sengaja menebang pohon karet di kebun mereka, dan menggantinya dengan tanaman sawit. “Namun di desa kami ini tidak ada masyarakat yang khusus menanam pinang berhektar-hektar, yang ada hanya menanam pinang di sekeliling rumah, walaupun harga pinang lagi melonjak tinggi,” ujarnya lagi.

Karena sulitnya ekonomi masyarakat di desa itu. Sejumlah kepala keluarga banyak yang mengadu nasib ke negera jiran Malaysia untuk mencari pekerjaan, di antaranya menjadi kuli bangunan atau perkebunan.

Biasanya, rentang jarak satu bulan sekali barulah mereka pulang ke kampung halaman untuk memberikan uang hasil kerjanya kepada anak dan istri. Yusuf dan masyarakat lainnya berharap besar kepada Pemerintah Kabupaten Bangkalis untuk memperhatikan kondisi perekonomian masyarakat di wilayah itu.

“Dan mengambil kebijakan terkait turunnya harga karet ini,dan mudah-mudahan ada kebijakan pemerintah seperti yang dijanjikan dulu, dan ada dana talangan untuk petani karet,” sambungnya. (sifa)