Lima Pasukan Kuning Akan Umroh Setiap Tahun

Rabu, 03 Juli 2013 12:17
BERTUAHPOS, PEKANBARU – Menjelang masuknya bulan suci Ramadan, Wali Kota Pekanbaru Firdaus bersilaturrahmi dengan petugas kebersihan yang akrab disebut pasukan kuning, pada Selasa (2/7) siang di kediaman wali kota Jalan A Yani.
 
Sebelumnya, pada Senin malam Firdaus juga bersilaturrahmi dengan mubaligh dari lima organisasi mubaligh di kediamannya. Pada dua kesempatan itu, Firdaus memberikan kabar gembira bagi pasukan kuning dan para mubaligh.
 
Pada saat bertemu dengan pasukan kuning, Firdaus menyampaikan kabar gembira berupa umroh atau wisata religius untuk lima orang pasukan kuning setiap tahun. Hal ini sebagai bentuk ucapan terima kasih Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru kepada petugas kebersihan yang terus bekerja keras dalam menciptakan Pekanbaru bersih.
 
“Saat ini tercatat sebanyak 1.700 orang petugas kebersihan yang tersebar di Dinas Kebersihan dan Pertamanan, di Dinas Pekerjaan Umum, dan di kecamatan. Para saudara pekerja kebersihan sudah menunjukkan kerjanya dengan membawa Pekanbaru kembali meraih Piala Adipura,” ungkap Firdaus.
 
Jasa ini, ulas Firdaus, tidak bisa dibalas Pemko Pekanbaru dengan uang, namun sebagai ucapan terima kasih dan apresiasi kepada pertugas kebersihan, Pemko Pekanbaru akan memberikan reward berupa umroh atau wisata religius.
 
“Setiap tahun akan diumrohkan bagi muslim, dan bantuan untuk wisata religius bagi non muslim. Setiap tahun akan diberangkatkan lima orang. Mereka yang bisa berangkat akan diseleksi oleh pengawas, tentunya yang memiliki kerja bagus. Ini akan dilakukan mulai tahun 2013 ini. Satu orang sudah diberangkatkan, tinggal empat orang lagi,” jelas Firdaus dan disambut tepuk tangan serta ucapan terima kasih dari pasukan kuning.
 
Sementara itu, kepada mubaligh dan mubalighah dari MDI, IKMIm MUI, IKADI dan Ittihadatul Mubalighin, Firdaus menyampaikan kabar gembira berupa pemberian insentif satu kali dalam setahun.
 
Jumlah insentif satu kali dalam setahun yang akan diberikan itu sebanyak Rp 1 juta rupiah.
 
“Mubaligh dan mubalighah merupakan ujung tombak pemerintah dalam mendidik dan membesarkan nilai agama di masyarakat.
 
Selain agama, mubaliq juga berperan menjadi corong pemerintah dalam mensukseskan pembangunan. Maka, sudah menjadi hal yang wajar kalau pemerintah memikirkan kesejahteraan mubaligh ini,” ungkap Firdaus.
 
Untuk mendukung kesejahteraan mubaligh ini, Firdaus akan mencari anggaran yang tepat untuk memberikan insentif sekali setahun. Artinya, pemberian insentif itu harus sesuai dengan aturan yang berlaku dan sesuai dengan mekanisme penggunaan uang pemerintah.
 
“Kami akan cari anggaran yang tepat untuk memberikan semacam insentif bagi para mubaligh ini. Kalau tidak dapat insentif tiap bulan, yang sekali setahun jadilah. Kalau tadi di hitung, ada sebanyak 1.500 orang lebih mubaliqh di Pekanbaru. Jika per orangnya diberikan isentif Rp 1 juta, maka anggaran yang akan digunakan sebesar Rp 1,5 miliar lebih setiap tahunnya,” jelas Firdaus.
 
Selain itu, kata Firdaus, Pemko Pekanbaru juga akan mencoba memberikan bantuan untuk mendapatkan fasilisitas kendaraan, baik roda dua maupun roda empat bagi para mubaligh. Caranya, Pemko akan berikan bantuan untuk uang muka, dan para mubaligh yang membayar kreditnya.
 
“Untuk kendaraan, kami akan coba membantu dengan memberikan uang muka, nanti sistemnya akan diatur sesuai dengan aturan,” tutur Firdaus.
 
Selain itu, Firdaus juga menyampaikan berbagai hal kepada petugas keberihan dan para mubaligh ini. Di antara yang disampaikan Firdaus yakni tentang program pembangunan fisik dan non fisik di masa kepemimpinannya. Ada juga tentang kebersihan, kesehatan, ekonomi, urbanisasi, infrastruktur hingga pembangunan pendidikan agama bagi umat muslim.
 
“Tidaklah salah jika materi ceramah para mubaligh berbicara tentang kebersihan, tentang kesehatan, ekonomi dan pembangunan. Maka, ajaklah masyarakat Pekanbaru untuk hidup bersih dan sehat serta menjaga lingkungan,” pinta Firdaus.
 
Di bidang keagamaan, Firdaus prihatin atas minimnya kemampuan kaum muslimin dalam membaca Alquran. Begitu juga dengan cara berpakaian kaum wanita muslim yang seronok.
 
“Berdasarkan data dari MUI, sebanyak 30 persen umat muslim di Pekanbaru tidak bisa membaca Alquran, ini memprihatinkan.
 
Selain itu banyak kaum wanita muslim Pekanbaru yang tidak berbusana sesuai kaidah Islam, bahkan ada yang berpakaian bikini dan rok mini. Inilah yang menjadi tugas para mubaligh, sehingga mereka bisa sadar atas perbuatan mereka itu adalah dosa,” sebut Firdaus. (tribunpekanbaru.com)