BERTUAHPOS.COM — Abrasi, perubahan iklim, hingga ketidakpastian pasar membuat komoditi kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mentok. Bahkan luas area perkebunan terancam menyusut di masa depan.
Pandangan ini disampaikan oleh Ketua Tim Peneliti Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Dr. Feryanto, saat menjadi pemateri dalam The 3rd BEDELAU di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau, Rabu, 4 November 2026.
“Secara nasional, tren luasan kebun kelapa kita menurun. Di Riau cenderung bertambah karena daerah-daerah di luar Inhil mulai menanam. Sedangkan di Inhil sendiri, secara grafik luas kebun kelapanya stabil,” ujarnya.
Secara pertumbuhan menurut hasil kajiannya, Fery menjelaskan bahwa tanaman kelapa di Inhil itu bagus. Tapi produktivitasnya turun.
Faktor penyebabnya ada banyak. Mulai dari usia tanaman yang sudah sangat tua, ancaman hama, abrasi, perubahan iklim yang drastis, hingga ketidakpastian pasar.
“Di Inhil itu, bahkan ada kepala yang usianya lebih tua dari pemilik kebun. Saat kami tanya, ya kebun itu bahkan warisan dari kakek neneknya,” tambahnya.
“Belum lagi soal edukasi,” ujar Fery. Banyak petani menganggap bahwa kelapa adalah tanaman anugerah.
“Tidak diapa-apain saja, tetap menghasilkan. Padahal kalau dipupuk dan dirawat, produktivitasnya bisa naik hingga 30%,” jelasnya.
Itu baru bicara soal kebun. Belum lagi bicara soal produk turunan yang bisa dihasilkan oleh komoditi itu. Kata Fery, kelapa Inhil berkontribusi hingga 11% terhadap produksi kelapa nasional.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Riau, Panji Achmad, mengatakan Riau memiliki modal besar sebagai produsen kelapa terbesar di Sumatera sekaligus nomor satu di Indonesia, dengan pusat produksi utama di Kabupaten Indragiri Hilir.
Data kajian mencatat luas areal kelapa mencapai 440,08 ribu hektare dengan produksi 411,23 ribu ton atau sekitar 11,39% dari produksi kelapa nasional.
“Ke depannya, kami berharap mengembangkan potensi kelapa ini secara optimal dengan syarat seluruh pihak bersinergi, berkontribusi aktif, dan menyusun perencanaan yang matang,” ujarnya.
Lebih dari 93% lahan kelapa merupakan perkebunan rakyat. Kebun rakyat itu menopang kehidupan 162.864 kepala keluarga pekebun dan menyerap lebih dari 170 ribu tenaga kerja.
Panji berharap, melalui penguatan hilirisasi, kelapa tidak lagi hanya dijual dalam bentuk kelapa bulat atau kopra bernilai rendah. Komoditas itu diarahkan menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti Virgin Coconut Oil, santan industri, nata de coco, tepung kelapa, serat sabut, media tanam, hingga arang aktif dari tempurung.*









