BERTUAHPOS.COM — Setiap dolar yang diinvestasikan dalam restorasi lahan diproyeksikan menghasilkan manfaat ekonomi hingga US$30, menurut laporan “Nature’s Comeback: Scaling ecosystem restoration for people and planet“. Laporan susunan FAO, UNEP, dan Sekretariat CBD itu juga memproyeksikan 32 juta green jobs tercipta pada 2030.
Proyeksi tersebut bertumpu pada restorasi sekitar 252 juta hektare lahan di 149 negara pada 2026. Lebih dari 1 juta lapangan kerja hijau telah tercipta sejauh ini dari aktivitas pemulihan ekosistem tersebut.
Biaya restorasi sangat bervariasi tergantung jenis dan lingkupnya. Biaya median restorasi lahan berkisar dari US$185 per hektare untuk pengelolaan hutan hingga US$3.012 per hektare untuk penggunaan lahan silvopastoral.
Silvopastoral merupakan sistem pengelolaan lahan yang menggabungkan kegiatan kehutanan dan peternakan dalam satu kawasan. Sistem itu memanfaatkan pepohonan, tanaman hijauan, dan pemeliharaan ternak secara bersamaan.
Biaya untuk ekosistem laut dan pesisir dapat lebih tinggi dibandingkan restorasi lahan darat. Meski demikian, restorasi memberi manfaat ekonomi lebih luas karena menjaga keberlangsungan kegiatan produksi serta mata pencaharian dan lapangan kerja.
Manfaat lain mencakup peningkatan ketahanan dan pengurangan biaya akibat kerusakan ekosistem yang terus terjadi. Namun, manfaat restorasi tidak selalu dirasakan langsung karena bisa baru terasa dalam jangka panjang dan dinikmati masyarakat luas.
Program UN World Restoration Flagships menjadi contoh restorasi global berdampak signifikan. Program di bawah UN Decade on Ecosystem Restoration yang dipimpin UNEP dan FAO itu memberi pengakuan dan dukungan kepada 35 inisiatif restorasi ekosistem berskala besar.
Program tersebut telah menciptakan lebih dari 1,1 juta lapangan pekerjaan dan melatih lebih dari 1,2 juta orang dalam upaya pemulihan ekosistem. Capaian itu menunjukkan restorasi tidak hanya memberi manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat.*








