BERTUAHPOS.COM — Luas lahan pertanian organik nasional mencapai 65.100 hektare pada 2024, naik sekitar 24% dibandingkan 2020.
Data itu tercantum dalam laporan Statistik Pertanian Organik Indonesia 2025 yang diluncurkan Bappenas bersama FAO dan Aliansi Organis Indonesia.
Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah produsen organik yang meningkat tiga kali lipat menjadi 108.469 orang pada periode yang sama.
Peningkatan itu menandai menguatnya basis pelaku usaha di sektor pertanian organik.
Pemerintah menargetkan kontribusi komoditas pertanian organik menjadi 1,55% dari total produksi pertanian pada 2029.
Target tersebut naik dari proporsi 1,47% pada 2025 sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2025–2029.
Menurut Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo AA Teguh Sambodo, data pertanian organik diperlukan untuk menentukan arah pengembangan sektor.
Tujuannya tidak lain untuk memperkuat tata kelola melalui tiga parameter utama; data deret waktu yang konsisten, metodologi dan cakupan komoditas yang terstandarisasi.
“Termasuk integrasi data ke dalam siklus perencanaan dan pembangunan, baik di tingkat pusat maupun daerah,” katanya, Selasa, 3 November 2026.
Laporan SPOI 2025 menunjukkan perkembangan pertanian organik memang belum tersebar secara merata.
Sekitar separuh dari total lahan pertanian organik nasional berada di Pulau Sumatera.
Teguh menilai, pengembangan pertanian organik menjadi bagian dari upaya membangun sistem pangan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Praktik tersebut juga relevan menghadapi tiga krisis planet, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.*









