BERTUAHPOS.COM — Kementerian Koperasi mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih masuk dalam rantai pasok energi nasional melalui pengumpulan minyak jelantah.
Langkah itu seiring penguatan kemitraan Pertamina dalam penyediaan bahan baku Sustainable Aviation Fuel dan Green Gasoline.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, mengatakan koperasi dapat menjadi penghubung antara masyarakat dan industri energi.
Salah satu skema yang dikembangkan adalah mengumpulkan minyak jelantah dari rumah tangga serta pelaku usaha kuliner untuk diserahkan kepada PT Pertamina.
“Koperasi adalah badan usaha yang bisa sama-sama dengan swasta dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) memberikan andil terbaik untuk perekonomian nasional, termasuk dalam pengelolaan energi dan mineral,” ujar Ferry, Senin, 2 November 2026.
Kemenkop telah meresmikan koperasi pengelola minyak jelantah di Purwokerto, Jawa Tengah. Model tersebut menghubungkan pengumpulan limbah rumah tangga dengan kebutuhan industri pengolahan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Selain minyak bekas, Kemenkop bersama PT Pertamina New and Renewable Energy mengembangkan proyek percontohan PLTS mikro berkapasitas di bawah satu megawatt.
Salah satu proyek yang diresmikan berada di Desa Sembur Laut, Pulau Galang, Kepulauan Riau.
PLTS berkapasitas 1 MW tersebut memasok listrik untuk fasilitas penyimpanan ikan berpendingin, pabrik es, serta Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan. Kemenkop juga mendorong pengelolaan sumur minyak rakyat dan sumur tidak aktif melalui koperasi resmi.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyebut pengumpulan minyak jelantah memberi nilai tambah bagi limbah rumah tangga.
“Pertamina Patra Niaga melihat minyak jelantah memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber bahan baku energi masa depan,” jelasnya.
“Potensi pemanfaatannya pun tidak terbatas pada pengembangan Sustainable Aviation Fuel, tetapi juga Green Gasoline,” tambah Kitty.
Pengembangan produk itu membutuhkan kesiapan bahan baku, sistem pengumpulan, serta teknologi pengolahan di kilang.
“Pengembangan energi masa depan membutuhkan kesiapan ekosistem secara menyeluruh, mulai dari ketersediaan bahan baku, sistem pengumpulan, hingga kemampuan industri dalam melakukan pengolahan,” ujarnya.
Untuk memperluas usaha energi, Kemenkop juga menggandeng Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia.*








