BERTUAHPOS.COM — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) telah menghancurkan hampir 300 rumah dan memaksa sekitar 1.000 warga mengungsi dari sebuah desa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Api yang merambat dari lahan gambut mencapai kawasan permukiman setelah warga sempat berupaya memadamkannya secara mandiri, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Selasa, 20 Oktober 2026.
Bupati Kabupaten Bangka Selatan, Riza Herdavid, mengatakan warga pertama kali melihat api mendekati desa berusaha telah melakukan upaya pemadaman menggunakan pompa air portabel. Namun, bara di bawah permukaan gambut membuat api tetap bertahan meski warga mengira kebakaran telah terkendali.
Perubahan arah angin kemudian mendorong api dengan cepat menuju permukiman. “Mereka mengira api sudah padam. Tapi itu lahan gambut, dan masih ada api yang membara di bawahnya,” kata Riza.
Kebakaran itu menimbulkan kerusakan besar dan memaksa warga meninggalkan rumah mereka. Badan penanggulangan bencana setempat melaporkan hampir 1.000 orang telah mengungsi dari desa yang terdampak.
Leni, warga berusia 55 tahun, menjadi salah satu korban yang kehilangan tempat tinggal. Ia kini berada di tempat penampungan bersama keluarganya setelah kebakaran menghancurkan rumahnya.
“Rumahku sudah hancur,” kata Leni. “Tidak ada yang tersisa. Saya hanya bisa menyelamatkan diri sendiri dan membawa anak-anak saya bersama saya… Saya panik dan tidak punya waktu untuk mengambil apa pun,” ujarnya.
Riza mengatakan desa tersebut dibangun di atas lahan yang sebelumnya merupakan lahan gambut di kawasan lindung. Menurut keterangannya, kawasan itu kemudian diubah menjadi kompleks perumahan pada tahun lalu.
Peristiwa ini menunjukkan risiko kebakaran di lahan gambut, yang bara apinya dapat bertahan di bawah permukaan dan menyulitkan upaya pemadaman. Ketika api kembali membesar dan arah angin berubah, kebakaran dapat bergerak menuju permukiman dalam waktu singkat.
Dampak Karhutla tahun ini juga meluas ke luar kawasan tempat tinggal warga. Kebakaran telah menimbulkan kabut asap di sejumlah daerah, memicu puluhan ribu kasus penyakit pernapasan, serta meningkatkan polusi udara di Singapura dan Malaysia.
Pemerintah Indonesia menyebut kondisi kebakaran saat ini sebagai yang terburuk dalam satu dekade terakhir. Indonesia termasuk wilayah yang terdampak gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran pada periode El Niño, sementara pihak berwenang memperingatkan api dapat terus menyala hingga November ketika fenomena tersebut diperkirakan mencapai puncaknya.
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengatakan pemerintah telah mengerahkan lebih dari 60.000 personel di lapangan.
Namun, upaya pemadaman menghadapi kendala di sejumlah wilayah. Badan penanggulangan bencana melaporkan asap tebal di sebuah provinsi di Kalimantan membuat pesawat pengebom air tidak dapat beroperasi.









