BERTUAHPOS.COM — Pergeseran arus investasi global akibat ketegangan geopolitik membuka peluang bagi Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), untuk tumbuh menjadi pusat modal internasional yang setara dengan kota-kota maju di Timur Tengah.
Pandangan itu disampaikan oleh Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini. Menurut penilaiannya, Batam layak ditempatkan sebagai prioritas utama jika Indonesia ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 7–8 persen.
“Kunci utama terletak pada perubahan orientasi kebijakan ekonomi,” ujar Didik lewat keterangan tertulisnya kepada Bertuahpos.com, dikutip Kamis, 1 Oktober 2026.
Di tengah tekanan konsumsi rumah tangga yang lemah, peningkatan belanja sosial semata, tentu tak akan cukup mendorong laju pertumbuhan ekonomi.
Didik menekankan perbaikan iklim penanaman modal dan ekspor harus menjadi fokus utama—dengan mengacu pada model pembangunan yang diterapkan seperti Vietnam.
“Indonesia tidak akan pernah mencapai tingkat pertumbuhan 7–8 seperti dijanjikan jika menghindari kebijakan investasi dan ekspor, yang berorientasi ke luar. Kuncinya sederhana, tiru Vietnam saja, yang sekarang berhasil mendorong perekonomiannya bertumbuh tinggi,” ujar Didik.
Sejak dirancang pada era 1980-an, Batam telah dipersiapkan menjadi kawasan ekonomi maju yang berdekatan dengan Singapura.
Kini dengan penduduk lebih dari 2 juta jiwa, status kawasan perdagangan bebas, serta kedekatan dengan salah satu pusat keuangan dunia, visi menjadikannya sebagai “Dubai Kecil” di Sumatera, bukan hanya sebatas wacana.
“Pilih saja fokus kebijakan ke Batam, kawasan ekonomi sudah direncanakan maju mengikuti Singapura sejak tahun 1980-an oleh Prof. Habibie. Dengan penduduk lebih dari 2 juta, Batam bisa direncanakan untuk menjadi ‘Dubai Kecil’ di Sumatera,” katanya.
Pertumbuhan ekonomi Batam kuartal terakhir mencapai 7 persen, didorong interaksi perdagangan dan jasa yang erat dengan Singapura yang sudah kian padat dan membutuhkan ruang ekspansi.
Kondisi ini diperkuat oleh dinamika Timur Tengah yang membuat investor mencari lokasi alternatif lebih aman dan stabil untuk berinvestasi.
“Dubai, Abu Dhabi, atau Qatar tidak sedang mengalami eksodus investasi besar-besaran. Tetapi gerak investasinya pasti melambat. Peluang alternatif pergeseran investasi karena masalah geopolitik ini sebenarnya bisa menempatkan Indonesia menerima luapan gerak investasi tersebut,” jelasnya.
Salah satu bukti kepercayaan pasar datang dari rencana penanaman modal Nvidia di Kawasan Ekonomi Khusus Batam senilai Rp80,55 triliun untuk pengembangan pusat data kecerdasan buatan.
Proyek DSX AI Factory melibatkan mitra dari Australia dan Singapura, dengan operasi bertahap mulai awal 2027 hingga 2028. Kehadiran investor teknologi raksasa dunia ini dinilai akan menarik masuk pengikutnya.
“Kita perlu kebijakan investasi menarik teknologi tinggi seperti Nvidia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Selain gempita dengan kebijakan mengolah sumber daya alam, kita butuh penyeimbang dari sektor teknologi,” ujar Didik.
Sepanjang 2025, investasi di Batam tercatat Rp69,3 triliun, dengan sektor digital menyumbang Rp8,56 triliun.
Kawasan ini juga dikembangkan sebagai pusat industri hijau yang terintegrasi dengan Bintan dan Karimun, termasuk kerja sama pasokan listrik bersih lintas negara. Kepastian hukum dan pelayanan yang responsif menjadi syarat agar arus modal ini terus mengalir.
“Batam sudah layak go global dan sudah ditetapkan layak oleh Nvidia. Tinggal pemerintah siap atau tidak melayani minat investor ini. Dalam waktu dekat Batam bisa menjadi pintu masuk modal Timur Tengah dan Asia,” ujarnya.









