BERTUAHPOS.COM — Peringatan Hari Anak Nasional 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi bagi para orang tua atas pola asuh yang mungkin selama ini dilakukan dengan cara yang tidak tepat. Salah satunya, desakan orang tua agar anaknya berprestasi, dapat menjadi pemicu tekanan mental pada si buah hati.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menyoroti maraknya tekanan berprestasi yang justru memicu gangguan mental pada anak. Desakan orang tua agar anak menjadi juara kelas mendorong perilaku berisiko seperti merokok hingga konsumsi obat terlarang.
Menurut Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, akar masalah kesehatan mental anak sering kali bermula dari pola asuh yang keliru. Alih-alih memberi ruang tumbuh, orang tua justru membebani anak dengan target akademik tidak realistis.
“Inilah pentingnya parenting, bagaimana kita bisa mendidik, menumbuhkembangkan anak di dalam suasana yang seharusnya penuh kasih sayang,” ujar Piprim di Jakarta.
Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat 115 kasus anak mengakhiri hidup sepanjang 2023 hingga 2025. Rentang usia korban terbentang dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di berbagai daerah.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Angga Wirahmadi, menjelaskan remaja yang merasa tidak dimengerti cenderung mencari pelarian pada rokok. Lingkungan masyarakat yang menganggap merokok sebagai hal lazim kian memperkuat persepsi keliru tersebut.
“Mereka memilih merokok karena menganggap kebiasaan itu dapat membuat lebih tenang. Padahal, kesehatan mereka justru akan terancam hipertensi, jantung, hingga darah tinggi,” tegas Angga.
Hanya 10 persen anak yang berani menceritakan masalah kesehatan mentalnya kepada orang lain. Anak dari keluarga broken home memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan emosi yang jarang terdeteksi sejak dini.
IDAI mendorong pendekatan HEEADSSS untuk mendeteksi masalah kesehatan mental pada anak secara dini. Metode ini mencakup evaluasi kondisi rumah, pola makan, aktivitas harian, penggunaan zat, seksualitas, depresi, hingga aspek keselamatan.
“Anak tidak akan menjawab jika tidak ditanya secara terbuka. Dokter mengambil peran penting untuk melakukan pencegahan dan penanganan sejak awal,” ujar Angga.
Organisasi Kesehatan Dunia menyebut satu dari tujuh anak usia 10 hingga 19 tahun di dunia mengalami depresi dan kecemasan. IDAI menilai pendidikan bagi orang tua menjadi kunci agar mereka mampu mengenali perubahan perilaku anak sejak dini.
Sekolah diharapkan bergerak cepat mendeteksi perubahan perilaku negatif yang biasanya terlihat di lingkungan belajar. Kolaborasi orang tua, tenaga medis, dan pendidik menjadi benteng utama melindungi kesehatan mental generasi muda.
“Kita tingkatkan kapasitas remaja, beri motivasi dan edukasi agar resiliensi mereka semakin kuat. Jangan biarkan anak mencari jalan pintas yang salah atas masalah yang seharusnya bisa mereka ceritakan,” kata Angga.









