BERTUAHPOS.COM — Perdagangan karbon di Indonesia harus didesain agar manfaat terbesar mengalir ke masyarakat tapak, ujar Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat.
Selama ini, pembangunan konvensional telah gagal menciptakan pemerataan ekonomi. Kini hadir pembangunan inkonvensional melalui perdagangan karbon.
“Orang menyebutnya ‘jualan angin’,” katanya berkelakar saat menghadiri acara Pekan Rakyat Lingkungan Hidup WALHI 2026 di LAM Riau, Pekanbaru, Jumat, 21 Agustus 2026.
Dia mencontohkan investasi penanaman mangrove di lahan terdegradasi seluas satu hektare, butuh modal sekitar Rp300 juta. Biaya itu mencakup pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan selama tiga hingga empat tahun.
Setelah masa panen, satu hektare mangrove dapat menghasilkan 3.000 hingga 5.000 ton CO2 ekuivalen. Jika dihargai $50 per ton, nilainya mencapai $150 ribu atau lebih dari Rp2 miliar.
Pertanyaannya, “margin sebesar itu perginya kemana?” Kata Jumhur. “Apa buat spekulan atau investor? Kita meminta berkeadilan agar benefit sharing terbesarnya harus untuk masyarakat tapak.”
Oleh sebab itu, kata dia, desain pembagian manfaat itu harus disiapkan sejak awal.
Dia menambahkan, perdagangan karbon tidak boleh hanya menjadi komoditas pasar. Kesejahteraan masyarakat adat dan masyarakat di lokasi proyek harus menjadi tujuan utama.
Di tingkat internasional, aksi iklim hanya mengenal istilah mitigasi dan adaptasi. “Maka, untuk di Indonesia saya tambah satu lagi, yaitu aksi prosperity atau kesejahteraan.”
Aksi prosperity memastikan seluruh praktik perdagangan karbon berujung pada kesejahteraan masyarakat tapak. Lingkungan yang dipulihkan juga harus menjadi hasil dan berdampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
Jumhur menegaskan bahwa jika perdagangan karbon tidak menyentuh kesejahteraan masyarakat, model itu dianggap tidak layak. Sebab itu lah, prinsip keadilan harus menjadi syarat mutlak.
Dengan pendekatan ini, perdagangan karbon dapat menjadi instrumen pembangunan yang lebih merata. Indonesia berpeluang memimpin aksi iklim yang inklusif dan berkeadilan.
“Kalau tujuannya nggak begitu, maka (perdagangan karbon) jadi nggak oke lagi,” sebutnya.









