BERTUAHPOS.COM — Kejahatan siber di Sri Lanka kian mengkhawatirkan seiring berpindahnya jaringan kriminal transnasional yang dikelola geng-geng China ke negara kepulauan itu, menyusul tekanan keras aparat di Asia Tenggara. Para ahli memperingatkan bahwa Sri Lanka kini muncul sebagai pusat baru operasi penipuan berskala global yang sebelumnya bercokol di Kamboja dan Myanmar.
Dilansir dari The Guardian, Selasa, 16 Juni 2026, juru bicara kepolisian Sri Lanka Fredrick Wootler mengatakan, bahwa negaranya tengah menghadapi “peningkatan kejahatan siber yang mengkhawatirkan.” Para pelaku masuk ke Sri Lanka dengan visa turis, lalu secara ilegal mendirikan operasi penipuan yang menyasar korban di seluruh dunia.
Sejak awal tahun, otoritas Sri Lanka telah menggerebek lebih dari selusin lokasi yang diduga menjadi markas penipuan. Hampir 700 warga asing telah ditangkap dan dideportasi atas keterlibatan mereka dalam kejahatan siber di Sri Lanka.
Penggerebekan terbaru berlangsung di ibu kota Kolombo, Kamis lalu, saat polisi menahan 18 warga negara China dan satu warga negara Laos. The Guardian yang mengunjungi lokasi menemukan puluhan dokumen palsu yang ditinggalkan para penipu, mulai dari sertifikasi hukum palsu, dokumen palsu Departemen Keuangan AS, hingga pendaftaran perusahaan fiktif yang mengklaim nilai bisnis mencapai 10 miliar dolar AS.
Seorang petugas biro investigasi kriminal yang terlibat dalam penggerebekan mengungkapkan temuan mencengangkan di lokasi. “Mereka memiliki telepon, laptop, flash drive, RAM, prosesor, stempel untuk memalsukan dokumen, dan begitu banyak dokumen palsu. Satu sertifikat yang kami temukan juga dipalsukan untuk menunjukkan bahwa mereka adalah bisnis yang terdaftar di AS, dibingkai dan digantung di dinding,” ujarnya.
Petugas itu juga menemukan 62 paspor di lokasi kejadian, sebagian besar milik warga negara China. Mayoritas yang ditangkap dan dideportasi tahun ini memang berkewarganegaraan China, meski warga Vietnam, India, Laos, Filipina, Malaysia, dan Myanmar turut dijaring dalam berbagai penggerebekan.
Industri penipuan transnasional di Asia Tenggara telah berkembang menjadi salah satu jaringan kejahatan terorganisir terbesar di dunia dalam satu dekade terakhir. Sebagian besar dikendalikan oleh geng-geng China, industri ini mempekerjakan ratusan ribu orang—banyak di antaranya menjadi korban perdagangan manusia dan dipaksa bekerja.
Dari kompleks benteng besar di Kamboja dan Myanmar, pabrik-pabrik penipuan skala besar menjalankan operasi mulai dari penipuan asmara dan investasi kripto, hingga judi daring dan pencucian uang lintas negara. Amerika Serikat mencatat kerugian warganya akibat pusat-pusat penipuan di Asia Tenggara mencapai 10 miliar dolar pada 2024.
Seiring meningkatnya tekanan politik terhadap negara-negara tuan rumah di Asia Tenggara, sindikat kejahatan ini mulai mencari lokasi baru. Sri Lanka pun menjadi pilihan utama berkat kemudahan visa turis, visa “nomad digital” yang baru diperkenalkan, regulasi kartu SIM dan internet yang longgar, serta banyaknya kantor dan hotel murah yang tersedia untuk disewa.
Mark Bo, peneliti kejahatan siber dan penulis buku Scam: Inside Southeast Asia’s Cybercrime Compounds, mengatakan pergeseran operasi ke Sri Lanka sudah ia pantau sejak dua tahun lalu. “Setelah penindakan keras benar-benar meningkat di Kamboja, saya melihat lebih banyak unggahan di saluran Telegram dari orang-orang yang mengatakan mereka pindah ke Sri Lanka,” kata Bo.
Bo menilai perpindahan ini mencerminkan betapa luwesnya industri kejahatan siber dalam beradaptasi. “Jelas sekali telah terjadi semacam pemindahan pengaturan yang persis sama ke sana. Ini menunjukkan tantangan dalam mengendalikan industri ini, karena salah satu karakteristik utamanya adalah betapa mobile dan mudah beradaptasinya mereka,” tambahnya.
Dampak kejahatan siber di Sri Lanka juga dirasakan di sektor properti komersial. Para pengusaha di Kolombo mengeluhkan harga sewa ruang kantor yang melonjak lebih dari dua kali lipat di beberapa kompleks, akibat tingginya permintaan dari kelompok-kelompok asal China yang bersedia membayar mahal.
Alih-alih membangun kompleks besar yang mencolok, para pelaku kini beroperasi dalam kelompok kecil beranggotakan lima orang. Mereka berpindah-pindah antara hotel, apartemen, dan kantor setiap tiga bulan sekali untuk menghindari deteksi—meski dalam satu kasus, delapan lantai gedung apartemen disewa sekaligus, menandakan besarnya modal yang mengalir ke operasi ini.
Kepala Kepolisian Sri Lanka, Kamal Ariyawansa, membenarkan bahwa sindikat kejahatan China berada di balik operasi-operasi tersebut, yang menyasar korban Amerika agar mau berinvestasi di perusahaan AS palsu. Kedutaan Besar China di Kolombo pun secara terbuka mengakui keterlibatan warganya, menyebut para pelaku telah pindah ke Sri Lanka setelah penindakan di Asia Tenggara.
“Kasus-kasus seperti ini menimbulkan kerugian yang sangat besar, dan Kedutaan Besar China memberikan dukungan penuh kepada lembaga penegak hukum Sri Lanka dalam menindak tegas para tersangka,” demikian pernyataan resmi Kedutaan Besar China di Kolombo.









