ULAMA tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa ajaran Islam tidak hanya berhenti pada pelaksanaan rukun ibadah, tetapi juga menekankan pentingnya pembentukan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, akhlak merupakan inti dari ajaran agama yang harus dibangun secara bertahap melalui kebiasaan, keteladanan, lingkungan yang baik, hingga pembinaan jiwa.
Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, akhlak tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui proses panjang yang dimulai dari latihan dan pembiasaan.
“Akhlak yang baik itu harus menjadi bawaan. Tetapi ia tidak muncul begitu saja. Kita harus melatih diri dan membiasakan diri melakukan kebaikan hingga akhirnya menjadi bagian dari kepribadian,” ujar Quraish Shihab sebagaimana dilihat Bertuahpos di Youtubenya, Senin, 9 Maret 2026.
Menurutnya, pembiasaan merupakan salah satu metode paling efektif dalam membentuk akhlak seseorang. Ia memberi contoh sederhana dalam kehidupan keluarga.
Orang tua yang terbiasa menanamkan disiplin atau kebiasaan baik kepada anak secara konsisten akan membentuk karakter anak tersebut tanpa disadari.
“Saya pernah melihat seorang ayah selalu menegur anaknya jika makan tanpa memakai baju. Akhirnya anak-anak itu terbiasa dan sampai besar mereka tidak pernah makan tanpa berpakaian. Itu contoh bagaimana kebiasaan akhirnya menjadi akhlak,” jelasnya.
Namun sebaliknya, ia menilai kebiasaan yang buruk juga dapat membentuk karakter yang buruk. Ketika lingkungan keluarga dipenuhi konflik atau pertengkaran, anak-anak akan menyerap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar.
Selain pembiasaan, Quraish Shihab menekankan pentingnya keteladanan dalam pembentukan akhlak. Perilaku orang tua, guru, maupun tokoh masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap kepribadian seseorang.
“Apa yang dilakukan oleh orang di sekitarnya akan membentuk kepribadiannya. Keteladanan itu sangat kuat pengaruhnya,” katanya.
Ia menambahkan, lingkungan sosial juga memiliki peran penting. Lingkungan yang baik akan membantu seseorang menjaga akhlaknya, sementara lingkungan yang buruk bisa mendorong seseorang melakukan hal-hal yang tidak baik.
Quraish Shihab mencontohkan pengalaman yang sering dialami oleh para jemaah haji. Ketika berada di Makkah, hampir semua orang bangun lebih awal untuk melaksanakan salat Subuh di masjid. Namun kebiasaan itu sering berubah ketika mereka kembali ke tanah air.
“Di Makkah hampir semua jemaah bangun sebelum Subuh dan pergi ke masjid. Tapi setelah kembali ke Indonesia, kebiasaan itu sering berubah. Itu menunjukkan betapa kuatnya pengaruh lingkungan,” ujarnya.
Selain pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan, ada satu hal yang menurutnya paling sulit dalam membentuk akhlak, yakni pembinaan jiwa. Hal ini banyak dibahas oleh para ulama tasawuf yang berfokus pada penyucian hati dan pengendalian diri.
Dalam konteks ini, Quraish Shihab menjelaskan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk meneladani sifat-sifat baik yang dimiliki Tuhan, yang dikenal melalui Asmaul Husna.
“Kita diajarkan untuk meneladani sifat-sifat Allah yang mulia. Tuhan Maha Pengampun, Maha Penyabar, dan Maha Penyayang. Itu semua menjadi teladan bagi manusia dalam berakhlak,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam ajaran Islam, akhlak tidak hanya terlihat dari perilaku luar, tetapi juga dari sikap batin seseorang. Seseorang bisa saja terlihat baik di depan orang lain, namun menyimpan iri hati atau kebencian di dalam hati.
“Akhlak bukan hanya sikap yang terlihat di luar, tetapi juga apa yang ada di dalam hati. Bisa saja seseorang terlihat ramah, tetapi di dalam hatinya penuh iri atau kebencian,” ujarnya.
Dalam membina hubungan antar sesama manusia, ia juga menegaskan bahwa ajaran Islam tidak langsung memerintahkan seseorang untuk melakukan kebaikan besar. Langkah pertama yang diajarkan justru adalah menghindari perbuatan buruk.
“Hampir semua nasihat Nabi dimulai dengan kata ‘jangan’. Jangan saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling menyakiti,” katanya.
Menurutnya, menghindari keburukan adalah fondasi awal sebelum seseorang mampu melakukan kebaikan yang lebih besar.
“Kalau Anda tidak bisa memberi kepada orang lain, setidaknya jangan mengambil miliknya. Kalau tidak bisa memuji orang, jangan mencacinya,” jelasnya.
Ia juga mengibaratkan pembentukan akhlak seperti seseorang yang ingin memperbaiki penampilan. Membersihkan diri lebih penting daripada sekadar menambahkan hiasan.
“Membersihkan keburukan itu lebih penting daripada menghias diri dengan kebaikan. Mandi tanpa parfum lebih baik daripada memakai parfum tanpa mandi,” ujarnya.
Dalam pandangan Quraish Shihab, inti ajaran Islam pada akhirnya kembali pada akhlak, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia.
“Yang paling penting dari agama ini adalah akhlak. Akhlak kepada Allah dan akhlak kepada manusia,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya berprasangka baik, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia. Menurutnya, prasangka buruk sering menjadi sumber konflik dan kerusakan hubungan.
“Kita diajarkan untuk tidak membenci manusia, tetapi membenci perbuatannya. Itu perbedaan yang sangat penting dalam ajaran Islam,” ujarnya.***









