BERTUAHPOS – Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan keras kepada musuh-musuh Iran — menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei — dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataan resminya yang dikutip kantor berita ISNA, IRGC menegaskan bahwa pihak yang dianggap bertanggung jawab atas serangan tersebut tidak akan lagi merasa aman di mana pun.
“Musuh harus tahu bahwa hari-hari bahagia mereka telah berakhir dan mereka tidak akan lagi aman di mana pun di dunia, bahkan di rumah mereka sendiri,” demikian pernyataan IRGC.
IRGC juga menegaskan Iran akan terus melanjutkan perlawanan terhadap Israel dengan seluruh kemampuan militer yang dimiliki hingga mencapai kemenangan. Pernyataan ini memperkuat sinyal eskalasi konflik yang berpotensi meluas di kawasan.
Sebelumnya, pada Sabtu, 28 Maret 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah target strategis di Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan besar di sejumlah fasilitas serta menimbulkan korban sipil.
Otoritas Iran pada Ahad mengonfirmasi bahwa serangan itu menewaskan Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah pejabat senior pemerintah dan militer, menjadikannya salah satu peristiwa paling signifikan dalam sejarah politik modern Iran.
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan jumlah korban jiwa akibat serangan udara terus meningkat. Hingga Senin, 2 Maret, total korban tewas mencapai 555 orang setelah serangan menargetkan sedikitnya 131 kawasan permukiman di berbagai wilayah Iran.
Data terbaru tersebut menunjukkan lonjakan tajam dibanding laporan awal pada Sabtu yang mencatat 201 korban tewas dan 747 orang luka-luka. Hingga kini, otoritas belum merinci jumlah korban luka terbaru.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Teheran dilaporkan meluncurkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menyasar Israel, aset militer Amerika Serikat, serta sejumlah titik strategis di kawasan Teluk.
Situasi keamanan regional pun masih berada dalam kondisi sangat tegang. Sejumlah pengamat menilai pernyataan keras IRGC menandakan konflik berpotensi memasuki fase baru dengan risiko eskalasi yang lebih luas, tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga berdampak pada stabilitas global.***









