BERTUAHPOS — Di lingkungan pondok pesantren Tegalrejo, Magelang, Muhammad Nurdin menekuni usaha yang tidak biasa bagi sebagian santi. Dia memilih menekuni ternak entok jumbo pedaging dan breeding, dengan memanfaatkan limbah sisa makanan seperti nasi pesantren sebagai pakan utama.
Usaha ini bermula dari keprihatinan sederhana. Sisa nasi santri yang selama ini terbuang dianggap mubazir. Dari situlah muncul gagasan untuk mengalihkannya ke usaha produktif.
Dengan modal awal sekitar Rp3,5 juta dari Pak Kyai, Muhammad Nurdin diminta mengelola ternak entok, “agar hasilnya dapat membantu pembangunan pesantren sekaligus menjadi sarana belajar usaha bagi para santri,” katanya seperti dilihat Bertuahpos di unggahan video Youtube Capcapung.
Pilihan jatuh pada entok bukan tanpa alasan. Menurut Nurdin, entok jauh lebih adaptif dibanding ayam atau bebek. Pakan entok relatif mudah dan murah. Nasi sisa, bekatul, dan tambahan konsentrat pabrikan sudah cukup untuk membuat entok tumbuh gemuk. Bahkan, hingga 70–80 persen pakan bisa berasal dari nasi sisa tanpa menghambat pertumbuhan.
Namun perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Pada tahun pertama, ketika jual-beli sedang ramai, Nurdin mengakui mereka lalai terhadap manajemen kesehatan ternak. Entok yang datang langsung dicampur tanpa karantina.
Akibatnya, penyakit yang dikenal peternak lokal sebagai “mata biru” atau aradan menyebar cepat. Dalam satu periode, sekitar 300 ekor entok mati karena serangan virus.
Musibah itu menjadi titik balik. Nurdin dan rekan-rekan santri mulai belajar serius. Mereka mendatangi peternak lain, bertanya soal gejala penyakit, obat, vaksin, hingga manajemen kandang.
“Waktu itu benar-benar puntang-panting belajar,” ujarnya.
Perlahan, pemahaman tentang biosekuriti, karantina, dan pencegahan penyakit mulai terbentuk.
Kini, perawatan kandang menjadi rutinitas utama. Pemberian pakan teratur, pembersihan kandang, penyemprotan disinfektan, serta vaksinasi dilakukan secara berkala. Limbah nasi tidak langsung diberikan ke entok.
Nasi dicuci terlebih dahulu menggunakan ceting, disiram air hingga minyak hilang, baru dicampur bekatul dan konsentrat sebelum diberikan sebagai pakan.
Perubahan juga dilakukan pada sistem kandang. Awalnya kandang langsung di atas tanah, yang menimbulkan bau ketika populasi padat.
Setelah evaluasi, alas kandang diganti pasir. Hasilnya signifikan. Kotoran entok yang berbentuk cair langsung meresap, bau berkurang drastis, dan lingkungan kandang menjadi lebih sehat.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Pada entok kecil, kekurangan protein bisa memicu kanibalisme. Sementara pada indukan, Nurdin pernah mendapati entok memakan telurnya sendiri. Solusinya sederhana tapi krusial: penambahan mineral.
“Kalau mineral cukup, perilaku itu berhenti,” katanya.
Pengalaman ini memperkaya pemahaman santri tentang pentingnya nutrisi seimbang.
Untuk pembesaran, Nurdin menilai kandang ideal adalah kandang tertutup dengan atap UV. Sistem ini melindungi entok dari angin dingin tanpa menghalangi panas matahari.
Sebab, entok pedaging sangat rentan terkena pilek. Jika terserang, pertumbuhan melambat. Target bobot tiga hingga tiga setengah kilogram di usia tiga bulan bisa turun menjadi dua kilogram saja.
Dari sisi usaha, penjualan entok jumbo kini menunjukkan hasil menggembirakan. Selain pasar lokal, Nurdin tak menyangka produknya bisa menembus luar pulau. Melalui pemasaran digital di TikTok dan Facebook, entok jumbo breeding pernah dikirim hingga ke Kalimantan. “Itu di luar dugaan kami,” ujarnya.
Keunikan lain dari usaha ini adalah integrasi dengan pertanian pesantren. Di sekitar kandang terdapat lahan cabai dan kubis. Kotoran entok yang menggumpal dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Dengan cara ini, peternakan dan pertanian saling terhubung, menciptakan siklus produksi yang berkelanjutan.
Bagi Nurdin, tujuan utama usaha ini bukan semata keuntungan. Ia ingin santri melihat langsung bahwa peternakan dan pertanian bisa menjadi jalan hidup yang bermartabat. Di pesantren, santri dibagi ke berbagai unit—peternakan, pertanian, koperasi—agar mereka punya keterampilan nyata saat kembali ke masyarakat.
“Harapan kami sederhana,” kata Nurdin. “Santri bisa belajar, pesantren terbantu, dan peternakan entok ini terus berkembang.” ***









