BERTUAHPOS — Harga CPO kontrak berjangka di Bursa Malaysia Derivatives ditutup lebih rendah.
Pelemahan terjadi setelah Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) merilis data kenaikan stok sebesar 13% untuk November 2025 dibandingkan Oktober 2025.
Pedagang minyak sawit, David Ng, mengatakan peningkatan stok yang cukup besar tersebut bertepatan dengan kinerja ekspor yang melemah.
“Kondisi ini menekan sentimen pasar dan membebani pergerakan harga CPO sepanjang hari,” katanya dilansir dari Bernama, Kamis, 11 Desember 2025.
Menurut David Ng, posisi harga saham yang masih tinggi turut memberikan tekanan tambahan.
Ia menjelaskan bahwa pasar cenderung berhati-hati karena kombinasi data stok dan perlambatan ekspor membuat prospek jangka pendek kurang stabil.
“Harga masih bertahan di atas RM4.000, namun menghadapi resistensi kuat di sekitar RM4.180 per ton,” ujarnya.
Dia menyebut bahwa pelaku pasar menunggu sinyal fundamental baru untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Pada penutupan perdagangan, kontrak Desember 2025 turun RM31 menjadi RM4.000 per ton. Kontrak Januari 2026 melemah RM44 menjadi RM4.041 per ton, sementara kontrak Februari 2026 turun RM43 menjadi RM4.063 per ton.
Kontrak Maret 2026 ditutup turun RM41 menjadi RM4.082 per ton. Kontrak April 2026 juga melemah RM35 menjadi RM4.093 per ton, dan kontrak Mei 2026 turun RM30 menjadi RM4.094 per ton. Seluruh kontrak mencatat pelemahan seragam seiring tekanan dari sisi fundamental.
Volume transaksi meningkat tajam menjadi 93.865 lot dari 58.351 lot pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, open interest naik menjadi 268.266 kontrak dibandingkan 265.437 kontrak sebelumnya, menandakan meningkatnya partisipasi pasar.
Harga fisik CPO untuk pengiriman Desember Selatan tercatat turun RM10 menjadi RM4.080 per ton. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan harga di pasar berjangka dan sentimen bearish yang mendominasi perdagangan.***









