BERTUAHPOS — Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup sedikit lebih tinggi pada perdagangan Kamis, 13 November 2025.
Kenaikan ini terjadi di tengah penguatan ringgit yang berpotensi menekan permintaan.
Pedagang komoditas David Ng mengatakan keuntungan awal berbalik karena pasar mengantisipasi ringgit yang lebih kuat.
Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi minat beli dalam jangka pendek.
“Kami melihat level support di RM4.100 dan resistance di RM4.280,” ujarnya dikutip dari Bernama.
Pada pukul 18.00 waktu setempat, ringgit menguat ke posisi 4,1260/1300 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di 4,1315/1385.
Pada akhir perdagangan, kontrak Desember 2024 naik RM2 menjadi RM4.087 per ton, sementara Maret 2026 turut menguat RM2 ke RM4.172 per ton.
Kontrak Januari 2026 naik RM1 menjadi RM4.125, sedangkan April 2026 bertambah RM3 menjadi RM4.181 per ton.
Untuk kontrak jangka panjang, Februari 2026 tercatat RM4.153 per ton. Namun, kontrak spot November 2025 justru turun RM22 menjadi RM3.935 per ton.
Volume perdagangan melonjak signifikan menjadi 106.879 lot, dibanding 57.444 lot sehari sebelumnya. Minat terbuka juga meningkat menjadi 265.902 kontrak, naik dari 263.092 kontrak pada perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, harga CPO fisik November Selatan turun RM30 menjadi RM4.080 per ton.
Kata kunci populer: harga CPO Malaysia, Bursa Malaysia Derivatives, harga sawit hari ini, ringgit menguat, kontrak CPO, harga minyak sawit mentah, komoditas sawit, pasar global.***









