BERTUAHPOS — Di atas sehelai kain, ukiran lidah api meliuk membentuk Pucuk Rebung. Motif Buah Khaman yang eksotis terbentuk di yang sudut lain, bersanding dengan lambang Kapak Beliung. Ada juga motif pompa migas.
Gambar-gambar ini bukan hanya sebatas ukiran, tapi menjadi lambang sejarah peradaban masa lalu. Diabadikan pada selembar kain batik dari Sumatera. Indah dipandang, sarat makna terkandung, dan ada harapan di dalamnya.
Hadirnya Batik Sumatera menjadi menjadi bukti hadirnya PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 Sumatera, terutama di momentuk Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober. Ini menjadi simbol kepedulian sosial lewat karya batik yang menawan.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PHR tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga memberdayakan masyarakat menjadi pelaku ekonomi kreatif.
Tiga batik binaan PHR ditampilkan, yaitu Batik Mandau dari Zona Rokan, Batik Khaman dari Zona 4, serta Batik Lapas dari Zona 1 yang pengrajinnya berasal dari warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi.
Di PHR Zona Rokan, lahir Batik Mandau hasil kolaborasi bersama Politeknik Bengkalis. Batik ini digarap oleh ibu-ibu PKK Kecamatan Mandau yang menghadirkan motif khas Melayu seperti pucuk rebung, bunga melati, daun duri, hingga bolu kemojo.
Yang paling menarik, Batik Mandau menyertakan motif lambang “Bermasa” yang merupakan singkatan dari Bermarwah, Maju, dan Sejahtera, tagline Kabupaten Bengkalis. Melalui pendampingan PHR, Batik Mandau kini menjadi pusat kerajinan ekonomi kreatif yang memperkuat identitas budaya dan pembangunan daerah.
Di Zona 1, batik hadir sebagai sarana pemberdayaan lewat Program Batik Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi. Kelompok pengrajinnya, Batik Kejora, lahir dari kepedulian terhadap masa depan warga binaan.
PHR melihat potensi membatik di kalangan narapidana dan mengembangkannya melalui replikasi program Batik Serumpun Berlian. Program ini memberi kesempatan bagi warga binaan, termasuk kasus narkoba dan korupsi, untuk berkarya sekaligus mempersiapkan keterampilan hidup pasca-hukuman.
Batik Lapas telah memperoleh Hak Cipta untuk beberapa motif, termasuk batik khas Jambi seperti angso duo, serta motif khusus lapas yang sudah terdaftar HAKI, di antaranya pian puan dan korona. Perlindungan ini menjamin keaslian karya sekaligus mendorong inovasi.
Kontribusi PHR juga terlihat di Zona 4 lewat Rumah Kreatif Boek Khaman, Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru. Di tangan Karang Taruna, lahirlah Batik Khaman dengan motif khas buah khaman (atau ghaman), buah eksotis yang memiliki nilai historis bagi desa tersebut.
Motif buah khaman dipadukan dengan Kapak Beliung sebagai Tumpal Bawah, menjadikannya simbol budaya yang diangkat kembali dalam bentuk kain batik. Dengan dukungan PHR, Batik Boek Khaman menjadi bukti bahwa sejarah lisan dapat diubah menjadi karya seni bernilai ekonomi yang memberdayakan generasi muda desa.
Corporate Secretary PHR Regional 1 Sumatra, Eviyanti Rofraida, menegaskan bahwa perayaan Hari Batik Nasional ini merupakan bukti nyata komitmen PHR.
“Melalui dukungan terhadap batik-batik binaan PHR, kami tidak hanya merayakan Hari Batik Nasional, tetapi juga membuktikan bahwa program tanggung jawab sosial dan lingkungan mampu menciptakan kemandirian ekonomi. Budaya kita terus hidup, memberdayakan, dan meningkatkan martabat masyarakat,” ujarnya.
Secara keseluruhan, kontribusi PHR dalam mendukung batik membuktikan bahwa kain tradisional bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga sarana pemberdayaan sosial, pembangunan ekonomi kreatif, dan penguat jati diri bangsa.***









