BERTUAHPOS — Maraknya tempat gadai di Kota Pekanbaru akhir-akhir ini menjadi sorotan masyarakat. Tidak hanya berdiri di kawasan pusat kota, rumah gadai juga menjamur hingga ke pinggiran, bahkan di jalan-jalan utama seperti Imam Munandar. Fenomena ini menimbulkan beragam tanggapan, baik dari kalangan masyarakat, praktisi, maupun akademisi.
Pantauan Bertuahpos di salah satu rumah gadai di Jalan Imam Munandar, mayoritas masyarakat yang menjadi nasabah berasal dari kalangan muda. Usia mereka rata-rata berada di kisaran 20 hingga 30 tahun. Kondisi ini menandakan bahwa generasi produktif pun banyak yang memanfaatkan jasa pegadaian untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka.
Salah seorang petugas rumah gadai yang enggan disebutkan namanya menyebutkan, barang yang paling sering digadaikan adalah laptop, sepeda motor, hingga gawai. “Kebanyakan anak muda datang bawa motor atau HP, biasanya untuk kebutuhan mendesak seperti bayar kuliah atau modal usaha kecil-kecilan,” ujarnya kepada Bertuahpos.
Akademisi Universitas Riau, Dr. Wirdatul Hasanah, M.Si menyoroti fenomena ini sebagai cerminan kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil. “Maraknya tempat gadai dan tingginya minat anak muda menggunakan jasa tersebut menunjukkan bahwa masih banyak kebutuhan finansial yang belum bisa dipenuhi secara reguler,” katanya saat dimintai tanggapan, Jum’at, 22 Agustus 2025.
Menurut Wirda, banyaknya anak muda yang bergantung pada rumah gadai juga bisa menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Pasalnya, generasi muda yang semestinya produktif justru terjebak pada pola pinjaman jangka pendek dengan bunga tertentu. “Kalau ini tidak diimbangi dengan literasi keuangan, mereka bisa saja terjebak pada siklus utang yang berkepanjangan,” tambahnya.
Di sisi lain, masyarakat menganggap keberadaan rumah gadai sebagai solusi praktis di tengah kesulitan ekonomi. Salah seorang nasabah, Rizky, mengaku sudah beberapa kali menggadaikan sepeda motornya. “Kadang butuh cepat, jadi lebih gampang ke sini. Kalau nunggu pinjaman bank lama prosesnya,” katanya.
Meski begitu, tidak sedikit warga yang khawatir dengan mudahnya akses gadai di Pekanbaru. Mereka menilai, fenomena ini bisa membawa dampak negatif apabila tidak ada pengawasan ketat. “Kalau gampang sekali orang bisa gadai barang, apalagi anak muda, takutnya mereka terbiasa cari uang cepat tanpa berpikir panjang,” ucap Nurhayati, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar Jalan Imam Munandar.
Wirdatul Hasanah menekankan pentingnya edukasi literasi keuangan bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Ia menyebut, pemerintah bersama lembaga keuangan bisa menghadirkan program pelatihan tentang manajemen keuangan sederhana. “Anak muda harus tahu bagaimana cara mengatur uang, menabung, dan berinvestasi. Jangan hanya mengandalkan pinjaman,” tegasnya.
Selain itu, fenomena maraknya tempat gadai juga sebaiknya dijadikan bahan evaluasi oleh pemerintah daerah terkait kondisi ekonomi masyarakat. “Banyaknya rumah gadai bisa jadi indikasi tingginya kebutuhan dana darurat. Ini sinyal bahwa daya beli masyarakat mungkin sedang tertekan,” jelas Wirda.
Dengan semakin menjamurnya rumah gadai di Pekanbaru, publik berharap pemerintah bisa mengambil langkah bijak. Di satu sisi, rumah gadai membantu masyarakat memenuhi kebutuhan finansial. Namun di sisi lain, fenomena ini tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa pengawasan dan edukasi, agar tidak menjerumuskan generasi muda ke dalam jeratan utang jangka panjang.***









