BERTUAHPOS — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kembali jadi sorotan setelah terungkap pembelian satu unit matras mewah untuk Gubernur Riau dengan nilai Rp149.067.450. Pengadaan ini dilakukan pada 13 Agustus 2025 dan langsung menimbulkan tanda tanya publik, terutama di tengah kondisi APBD yang defisit.
Bukan pertama kali, pada 2024 lalu Pemprov Riau juga membeli satu set kasur lengkap plus divan untuk Pj Gubernur seharga Rp148,4 juta. Dua tahun berturut-turut, ratusan juta rupiah APBD habis hanya untuk kebutuhan tidur pejabat.
Sayangnya, detail merek dan model kasur tidak diungkap dalam dokumen resmi. Namun, harga yang fantastis ini membuat publik penasaran, kasur apa sebenarnya yang bisa menyentuh angka tersebut?
Hasil penelusuran Bertuahpos menemukan sejumlah referensi kasur mewah yang sebanding. Salah satunya Simmons Gallery (Amerika Serikat), yang memiliki model impor dijual sekitar Rp140 juta dengan fitur advanced pocketed coil, far infrared, Aircool memory foam, hingga premium knitted fabric.
Dari merek King Koil, ada koleksi Masterpiece yang dipasarkan Rp44,7 juta hingga Rp144,75 juta. Jika ditambah divan atau aksesoris, harganya bisa mendekati Rp149 juta. Seri ini termasuk kategori super premium di pasaran lokal.
Selain itu, King Koil Signature Gold Response Series dibekali teknologi Auto Body-Zoning System dan Luxurious Horse Hair Fiber. Meski kisaran harganya Rp15 juta–Rp90 juta, seri ini tetap masuk kategori premium, meski belum setara dengan harga Rp149 juta.
Di pasar global, sejumlah nama besar lain juga menawarkan kasur dengan harga fantastis. Simmons Beautyrest Black Hybrid di Asia bisa mencapai Rp150 juta, Serta iSeries 3000 Hybrid Luxe dijual hingga Rp135 juta, dan Hastens Maranga (Swedia) dipasarkan Rp140 juta–Rp180 juta. Ada juga Magniflex Grandezza (Italia) dijual Rp120 juta–Rp145 juta, King Koil Extended Life Elite bisa tembus Rp150 juta, serta Vi-Spring Luxury Beds (Inggris) yangdibanderol Rp130 juta–Rp160 juta.
Dengan daftar produk ini, wajar jika harga kasur Pemprov Riau dianggap setara dengan kasur mewah kelas dunia. Namun, publik tetap menilai pembelian tersebut tak sensitif terhadap kondisi daerah.
“Rakyat diminta hemat, sementara pejabat tidur di kasur ratusan juta. Kami saja sudah bersyukur bisa tidur di kasur biasa,” ujar Rian, warga Pekanbaru saat berbincang dengan Bertuahpos Rabu, 20 Agustus 2025.
Hal senada diungkapkan oleh Fitri, “Kalau uang sebanyak itu dipakai untuk bantu pedagang kecil atau perbaikan drainase, manfaatnya lebih terasa. Kasur mahal tidak ada dampaknya bagi rakyat.” ujarnya.
Sementara itu, akun salah satu postingan Instagram menuliskan, “Kami tidur di lantai dengan tikar, tapi pejabat tidur di kasur Rp149 juta. Inikah arti keadilan sosial?”
Hingga kini, Pemprov Riau belum memberikan keterangan resmi terkait alasan pengadaan matras mewah tersebut. Publik masih menunggu jawaban, apakah ini kebutuhan mendesak atau hanya gaya hidup elitis pejabat di tengah defisit APBD.***








