Baru dua bulan berjualan, seorang pedagang Bakso Cuanki di Pekanbaru berhasil meraup omzet hingga Rp15 juta per bulan. Strategi pemasaran sederhana hingga cita rasa khas jadi kunci sukses usaha yang dirintis dari gerobak kecil ini.
Hampir setiap sore, antrean pelanggan terlihat di depan gerobak cuanki di pinggir Jalan Bukit Barisan, tak jauh dari SMA Negeri 10 Pekanbaru. Di balik gerobak tersebut, berdiri seorang pria bernama Andri. Asal Bandung. Dia biasa disapa Kang Andri.
Di gerobak ini, dia menjajakan Bakso Cuanki Bandung, lengkap dengan minyak cabai pedas gurih yang menggoda selera. Sejumlah pelanggan yang saya temui, mereka cukup tertarik dengan minyak cabai itu.
Di sini, Andri menjual berupa campuran bakso, tahu, siomay kering, dan cuanki lidah. Kudapan itu disajikan dengan kuah hangat khas Bandung. Semakin sempurna dengan siraman cabai oil racikan sendiri.
“Cabai oil-nya saya buat sendiri. Resepnya khas Bandung. Pedas, memang. Tapi wangi dan gurih,” kata Kang Andri saat ditemui Bertuahpos pada Kamis, 29 Mei 2025.
Harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Hanya Rp10.000 per porsi. Meksi ramah di kantong, “rasanya tidak kaleng-kalang” (kata anak jaman sekarang). Dalam sehari, sebanyak 50 porsi jualnya habis. “Ya, kalau dirata-ratakan, bisa lah dapat omzet Rp500 ribu per hari. Alhamdulillah,” ucapnya.
Menurut Andri, usaha ini baru saja ia rintis. Usianya, mungkin sekitar dua bulan belakangan. Tapi, dia sudah punya pelanggan tetap. Kang Andri biasa mulai berjualan sekitar pukul 16.00 WIB. Baru tutup setelah dagangannya habis. Biasanya tidak menunggu malam tiba.
Usaha Cuanki ini berawal dari iseng. Dari pengamatannya, belum ada yang berjualan Cuanki di Pekanbaru. “Eh, ternyata peminatnya banyak juga ya,” ucapnya. Kalau pasarnya bagus seperti ini, dia optimis usaha ini bisa berkembang lebih pesat ke depannya.
Setelah berbincang dengan Kang Andri, Bertuahpos menyapa salah seorang pembeli. Namanya Rina. Dia termasuk yang “jatuh cinta pada cicipan pertama” saat mencoba Cuanki ini.

Menurutnya, yang bikin unik dari Cuanki Kang Andri, rasa kuahnya lebih gurih, “dan cabai oil-nya beda banget. Saya suka pedas, jadi selalu minta tambah,” katanya sambil tertawa kecil, dan sudah seminggu belakangan ini, Rina selalu mampir ke gerobak Cuanki Kang Andri. Hampir setiap sore.
Bertuahpos lalu bergeser ke Faisal. Dia juga salah seorang pelanggan setia kudapan ini. Setelah sebelumnya dia pernah mencicipi kuliner ini di kota asalnya langsung, Bandung, kini dia merasa bernostalgia dengan masa-masa itu saat mengunyah Cuanki Kang Andri.
“Pas coba Cuanki ini langsung nostalgia. Rasanya mirip. Apalagi cabe oil-nya juara,” ujarnya.
Rahasia di balik gurihnya rasa Cuanki ini, kata Kang Andri, ada pada kualitas bahannya. Sebagian besar didatangkan langsung dari, kampung halamannya, Kota Bandung.
“Saya hanya ingin mempertahankan rasa yang otentik. Biar pelanggan merasa puas,” ujarnya. Sejauh ini, semua keinginan itu sudah terjawab. Sukses ya Kang Andri…***
— Habibie









