BERTUAHPOS – Setelah dilantik pada Senin, 26 Mei 2025, Prof. Dr. Hj. Leny Nofianti, MS., SE., MSi., Ak., CA., adalah rektor perempuan pertama di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska Riau), sejak kampus ini berganti dari IAIN ke UIN tahun 2005 lalu.
Prof. Leny resmi dilantik sebagai Rektor UIN Suska Riau untuk periode 2025–2029 oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, di Jakarta. Pelantikan ini menjadi momen penting tidak hanya bagi Prof. Leny secara pribadi, tetapi juga bagi UIN Suska Riau dalam upaya memperkuat peran kepemimpinan perempuan di lingkungan pendidikan tinggi Islam.
Profil Singkat:
Dilansir dari Prof. Leny lahir di Sungai Salak, Indragiri Hilir, Riau, pada 12 November 1975. Ia menamatkan pendidikan sarjana di Universitas Riau dan melanjutkan program magister dan doktor di Universitas Padjadjaran. Gelar doktor berhasil diraihnya pada 2008, dan pada 1 Februari 2020, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Akuntansi di UIN Suska Riau.
Selama karier akademiknya, Prof. Leny aktif dalam penelitian dan pengembangan keilmuan. Ia telah menghasilkan lebih dari 30 penelitian, mempublikasikan puluhan artikel jurnal ilmiah, serta menulis sejumlah buku. Kontribusinya terhadap peningkatan kualitas jurnal akademik di lingkungan UIN Suska turut diperhitungkan.
Tak hanya menonjol dalam bidang akademik, Prof. Leny juga dikenal sebagai tokoh yang vokal dalam isu kesetaraan gender dan perlindungan perempuan di kampus. Pada Oktober 2023, ia memimpin seminar nasional bertema “Membangun Masa Depan Bebas Kekerasan Seksual,” sebagai bentuk komitmen terhadap terciptanya lingkungan akademik yang aman dan inklusif.
Dalam pidato perdananya sebagai rektor, Prof. Leny menegaskan akan membawa UIN Suska Riau ke arah yang lebih transparan, adil, dan Prof.esional. Ia berkomitmen menerapkan nilai-nilai Islam seperti kejujuran, amanah, akuntabilitas, serta menjadikan kampus sebagai ruang tumbuh yang inklusif dan berdaya saing.
Penunjukan Prof. Leny sebagai rektor perempuan pertama menjadi simbol kemajuan bagi UIN Suska Riau. Diharapkan, di bawah kepemimpinannya, kampus ini akan semakin berkembang dan melahirkan lulusan yang kompeten serta berkontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Dilansir dari laman uin-suska.ac.id, ketekunan, doa, dan dukungan keluarga menjadi pondasi kuat dalam perjalanan akademik Prof. Leny Nofianti.
Lahir sebagai anak kesembilan dari sepuluh bersaudara dalam keluarga yang mengedepankan pendidikan, Leny tumbuh dengan semangat belajar yang luar biasa. Ayahnya, almarhum Mustafa Jalal—mantan Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Gaung Anak Serka—rela menanggalkan jabatan demi masa depan anak-anaknya, pindah ke Pekanbaru agar mereka mendapat akses pendidikan yang lebih baik.
“Ayah hanya mampu membiayai kuliah di universitas negeri. Jadi, kami semua harus berjuang keras masuk PTN. Di masa itu, Ayah bahkan harus mengkuliahkan empat anak sekaligus,” kenang Leny.
Meski sempat bercita-cita menjadi dokter, takdir membawanya menekuni bidang akuntansi. Ia menyadari kemudian bahwa doa sang ibu mempengaruhi arah hidupnya—sang ibu berharap Leny tidak diterima di fakultas kedokteran karena khawatir pembiayaannya terlalu berat.
Menjalani peran sebagai istri dari Pahrurrozi, SP, MMA, seorang ASN di Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Riau, tak menyurutkan langkah Leny untuk terus melanjutkan studi. Saat menempuh pendidikan S2 di Universitas Padjadjaran, ia sedang hamil anak keduanya. Bahkan saat mengambil program doktor di kampus yang sama pada 2008, ia membawa dua anak balitanya ke Bandung dan tetap lulus dengan predikat cumlaude dalam waktu tiga tahun.
Dosen teladan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial tahun 2008 ini terus menorehkan prestasi. Ia aktif meneliti dan menulis secara konsisten—minimal dua karya ilmiah setiap tahun. Hingga kini, Leny telah menghasilkan lebih dari 30 penelitian, 19 publikasi jurnal, 10 proceeding, dan 10 buku serta artikel populer.
“Kunci untuk menjadi guru besar itu bukan langkah instan. Saya mulai dari menulis sedikit demi sedikit, tapi konsisten,” ungkapnya.
Ia pun membentuk tim peneliti di Prodi Akuntansi yang fokus pada kolaborasi riset, partisipasi konferensi internasional, dan perburuan hibah penelitian. Mahasiswa-mahasiswa yang punya semangat tinggi turut diajak dalam tim riset payung dan dibimbing agar mampu menghasilkan penelitian yang unggul.
Namun, menurut Leny, tantangan terbesar justru datang setelah meraih gelar profesor. “Saya merasa bukan saatnya berhenti, justru ini awal untuk memberikan lebih banyak manfaat—baik bagi sesama maupun dalam ibadah kepada Sang Khalik,” tutupnya dengan penuh haru dan tekad.
Kisah Prof. Leny Nofianti bukan sekadar tentang pencapaian akademik, melainkan bukti bahwa perjuangan, komitmen, dan keberkahan keluarga adalah kunci menuju keberhasilan yang sejati.***
— Habibie









