BERTUAHPOS– Bank for International Settlements (BIS) mengeluarkan peringatan soal potensi krisis global yang dipicu oleh lonjakan permintaan dolar AS di pasar valuta asing.
Risiko ini bisa terjadi jika para investor mulai menarik dana besar-besaran dari pasar foreign exchange (FX) swap yang nilainya mencapai USD113 triliun, di tengah meningkatnya gejolak ekonomi Amerika Serikat.
BIS menyebutkan bahwa dana investasi dan lembaga keuangan non-bank memegang lebih dari USD80 triliun dalam bentuk FX swap.
Instrumen ini pada dasarnya merupakan pinjaman dolar AS dengan komitmen pengembalian di masa depan berdasarkan kurs yang disepakati.
Meski bersifat utang jangka pendek, transaksi ini umumnya tidak tercatat dalam neraca keuangan institusi dan luput dari pengawasan regulasi modal.
Kepala Departemen Moneter dan Ekonomi BIS, Hyun-Song Shin, mengungkapkan bahwa kepanikan bisa terjadi apabila investor secara serempak membatalkan posisi swap mereka.
Sebagian besar dari mereka melakukan lindung nilai terhadap aset berdenominasi euro atau yen, namun tetap memiliki kewajiban pengembalian dalam bentuk dolar AS.
“Jika swap itu harus diperpanjang, maka mereka akan berebut dolar,” ujar Shin dalam kuliah umum di London School of Economics, seperti dikutip Reuters, Selasa, 20 Mei 2025.
Ia menambahkan, situasi seperti itu berisiko menyebabkan lonjakan tajam nilai tukar dolar AS di pasar global.
Kondisi pasar valuta asing juga telah mengalami gejolak pada April lalu, ketika Presiden Donald Trump meluncurkan kebijakan perdagangan agresif yang memicu pelemahan dolar AS hingga ke titik terendahnya dalam lebih dari tiga dekade terakhir.
Sebagai tambahan tekanan, lembaga pemeringkat Moody’s baru-baru ini mencabut status kredit triple-A untuk Amerika Serikat.
Langkah ini menyoroti kekhawatiran terhadap peningkatan tajam utang pemerintah AS dalam 15 tahun terakhir, yang turut memperburuk sentimen pasar.
Shin juga menyinggung apakah fenomena “eksepsionalisme AS” – kecenderungan investor global untuk membeli aset-aset AS – mulai memudar akibat ketidakpastian ekonomi. Ia mencatat kondisi yang tak lazim, di mana saham, obligasi, dan dolar AS mengalami penurunan secara bersamaan.
Meski belum ada tanda pasti bahwa investor besar akan menjual aset-aset AS mereka secara signifikan, Shin menilai situasi saat ini bisa mendorong perubahan strategi investasi jangka panjang.
“Investor mungkin mulai mengevaluasi kembali orientasi mereka terhadap pasar AS,” ujarnya.***









