BERTUAHPOS — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau mulai membuka opsi untuk memindahkan atau mengganti Tugu Zapin yang berada di bundaran Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru.
Opsi tersebut kini tengah dikaji oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyusul banyaknya masukan dari tokoh masyarakat dan tokoh budaya Melayu.
SF Hariyanto mengatakan, masukan yang diterimanya lebih kepada nilai budaya dan keagamaan yang melekat pada masyarakat Riau.
Sebagian besar masukan, lebih kepada Riau sebagai daerah Melayu yang identik dengan Islam, keberadaan patung berbentuk manusia dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.
“Saya banyak menerima masukan. Pertimbangan mereka, kita ini tanah Melayu yang identik dengan Islam. Patung-patung orang itu masih dianggap tabu karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Jadi rasanya kurang pas,” kata SF Hariyanto, Kamis, 22 Januari 2026.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah memindahkan Tugu Zapin ke lokasi lain atau mengganti dengan ikon Melayu Riau yang berbeda, namun tetap merepresentasikan identitas daerah, dan semua ini masih dalam tahap kajian.
Dengan adanya opsi tersebut, Pemprov Riau belum memastikan apakah Tugu Zapin akan diperbaiki dalam waktu dekat. SF Hariyanto mengakui kondisi tugu saat ini cukup memprihatinkan karena mengalami kerusakan dan aksi vandalisme.
“Ini kan posisinya di depan kantor Kementerian, Kejaksaan, dan Polda. Tapi masih saja berani dirusak. Artinya sudah tidak ada rasa takut,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan Pemprov Riau tetap akan melakukan langkah penanganan. Perbaikan sementara tetap menjadi opsi sambil menunggu hasil kajian terkait pemindahan atau penggantian tugu tersebut.
“Nanti akan kita kaji secara matang. Sementara ini akan tetap kita perbaiki,” pungkas SF Hariyanto.***
Dokumentasi Kondisi Tugu Zapin Pekanbaru saat Ini
Sekilas tentang Tugu Zapin Pekanbaru
Tugu Zapin berdiri megah di titik nol Kota Pekanbaru sejak 2012 dan menjadi salah satu ikon visual paling dikenal di ibu kota Provinsi Riau. Ini adalah karya maestro seni patung Indonesia, I Nyoman Nuarta. Berada di kawasan strategis menjadikan tugu ini sebagai penanda pusat kota sekaligus ruang ekspresi budaya Melayu.
Secara visual, Tugu Zapin menampilkan sepasang penari Bujang dan Dara yang sedang melakukan gerakan Tari Zapin—tarian tradisional Melayu yang mendapat pengaruh kuat dari budaya Arab-Islam. Dinamika gerak tubuh patung mencerminkan harmoni, kekompakan, dan irama yang menjadi ciri khas Zapin, sekaligus menghadirkan kesan hidup di ruang publik.
Tugu ini diresmikan pada 2011–2012 menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau. Kehadirannya menggantikan Tugu Pesawat Tempur yang sebelumnya berdiri di lokasi yang sama. Pergantian tersebut menandai pergeseran identitas kawasan dari simbol militer menuju representasi budaya dan kearifan lokal Melayu.
Secara filosofis, Tari Zapin dipilih sebagai simbol karena mencerminkan karakter masyarakat Melayu Riau yang santun, religius, dan bersemangat. Pembangunan Tugu Zapin bertujuan memperkuat identitas budaya di pusat pemerintahan Provinsi Riau, sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tetap berpijak pada nilai tradisi dan warisan budaya lokal.









