BERTUAHPOS.COM — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan desain bilah (blade) drone inovatif khusus untuk aplikasi penyemprot (sprayer) tanaman bawang merah. Inovasi ini menjadi solusi bagi petani hortikultura agar proses penyiraman dan pemupukan lebih efisien tanpa merusak daun tanaman yang rapuh.
Peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN, Lidia Kristina Panjaitan, menjelaskan riset ini berawal dari kebutuhan lapangan di Kawasan Food Estate Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, pada 2020. Saat itu, drone konvensional yang digunakan justru menimbulkan risiko karena hembusan anginnya terlalu kuat. “Kami mulai merancang bilah baru yang lebih aman untuk tanaman,” kata Lidia saat InaRI Expo 2025 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Selasa (28/10).
Melalui riset sejak 2022, tim BRIN merancang bilah berbasis airfoil NACA 4415 dengan delapan propeller pada drone tipe hexa-rotor. Desain ini menghasilkan sapuan udara lembut (downwash) namun tetap memiliki daya angkat tinggi untuk membawa tangki penyemprot. “Hasil uji lapangan menunjukkan distribusi semprotan lebih merata dan aman bagi tanaman bawang merah,” ujarnya.
Tahapan riset dimulai dengan pengukuran kekuatan daun dua varietas bawang merah, yaitu Batu Ijo dan Birma. Sebanyak 200 sampel daun diuji untuk menentukan varietas dengan daun paling lemah. Data tersebut menjadi dasar simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) dan perancangan aerodinamika bilah menggunakan pendekatan Blade Element Theory.
Dari hasil simulasi, ketinggian terbang paling aman ditetapkan dua meter di atas tanaman. Pada jarak itu, tekanan udara tidak merusak daun, dan semprotan cairan menyebar merata. Drone ini mampu menyelesaikan penyiraman lahan satu hektare dalam waktu sekitar 10 menit, jauh lebih cepat dibanding metode manual yang membutuhkan 2–3 hari.
“Drone ini berkapasitas 10 liter dan bisa digunakan untuk penyiraman maupun pemupukan cair. Sekali isi, dapat menjangkau 2–3 hektare lahan,” jelas Lidia. Selain mempercepat pekerjaan, teknologi ini juga menghemat air dan tenaga serta mendukung pertanian presisi (precision agriculture).
Ke depan, BRIN berencana mengembangkan desain nozzle dan sistem penyemprotan bio-fertilizer yang disesuaikan dengan tingkat kekentalan pupuk organik cair. Inovasi ini akan dikembangkan bersama universitas dan pelaku UMKM pembuat drone agar terwujud produk drone nasional yang sesuai kebutuhan petani Indonesia.
Desain bilah NACA 4415 dengan konfigurasi hexa-rotor dan 8 bilah ini telah memperoleh paten pada Oktober 2025 dan dipublikasikan di dua jurnal internasional serta satu jurnal nasional. “Bahkan lembaga riset Jepang, JIRCAS, sudah menyatakan minat untuk bekerja sama,” kata Lidia.
BRIN berharap inovasi drone ini dapat mempercepat modernisasi pertanian dan membantu petani bawang merah meningkatkan produktivitas dengan teknologi karya anak bangsa.***









