BERTUAHPOS – Ini ada kabar buruk bagi para pemburu gadget kelas atas. Harga memori dunia, baik DRAM maupun NAND Flash, terus meroket tanpa henti.
Kondisi ini memberikan tekanan biaya yang luar biasa besar bagi raksasa teknologi seperti Samsung Electronics dan Apple.
Imbasnya, harga peluncuran ponsel lipat generasi terbaru di paruh kedua tahun ini, termasuk “Galaxy Z Fold 8” dan produk perdana “Apple iPhone Fold,” diprediksi akan melonjak drastis hingga menyentuh angka yang sulit dinalar.
Dilansir Bertuahpos dari media lokal The Financial News, Rabu, 18 Maret 2026, kenaikan harga komponen semikonduktor ini telah terjadi selama belasan bulan berturut-turut.
Para analis industri memperkirakan bahwa ponsel lipat pertama milik Apple akan dibanderol dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan model konvensional mereka.
Hal serupa juga membayangi Samsung yang kini sedang berjuang keras mengimbangi pembengkakan biaya material demi menjaga margin keuntungan.
Menurut situs berita IT mancanegara, MacRumors, harga untuk model Apple iPhone Fold kapasitas 256GB diprediksi akan menyentuh angka fantastis sekitar 3,46 juta won atau setara dengan Rp40 jutaan.
Angka ini hampir dua kali lipat dari estimasi harga iPhone 17 Pro. Bahkan, untuk varian tertinggi dengan kapasitas 1TB, harganya diperkirakan bisa menembus 4,33 juta won.
Kondisi yang sama menjepit Samsung Electronics. Jika tahun lalu Galaxy Z Fold7 diluncurkan di angka 2,3 juta won, maka generasi berikutnya yakni Galaxy Z Fold 8 diperkirakan akan naik tajam mendekati angka 3 juta won.
Padahal, Samsung sudah berupaya mendiversifikasi rantai pasokannya menggunakan prosesor Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan Exynos 2600 buatan sendiri, namun lonjakan harga memori tetap tak terbendung.
Tekanan fiskal ini terlihat nyata dari laporan keuangan Samsung tahun lalu yang menghabiskan 13,82 triliun won hanya untuk pembelian prosesor aplikasi, melonjak 26,5% dari tahun sebelumnya.
Data dari DRAMeXchange menunjukkan harga kontrak DRAM naik 13,04% pada Februari, sementara NAND Flash meroket hingga 33,91% di periode yang sama.
Analis senior dari Counterpoint Research, Shenghao Bai, menegaskan bahwa langkah efisiensi tradisional yang biasanya dilakukan produsen ponsel kini sudah mencapai titik jenuh.
Menurutnya, kenaikan harga di tingkat konsumen sudah tidak bisa dihindari lagi karena porsi biaya memori terhadap total material ponsel premium kian mendominasi.
Situasi ini memaksa konsumen untuk merogoh kocek lebih dalam jika ingin menikmati teknologi layar lipat terbaru. Dengan harga komponen yang terus memanas, tren “ponsel mewah yang semakin mewah” tampaknya akan menjadi kenyataan pahit bagi pasar smartphone global sepanjang tahun 2026.***









