BERTUAHPOS – Kepala Pusat Observatorium Astronomi Lampung (OAIL) Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Dr. Annisa Novia Indra Putri, menegaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan intensif, objek tersebut dipastikan bukan merupakan komet.
Analisis sementara terhadap karakteristik gerak dan lintasan benda terang itu menunjukkan pola yang berbeda dengan benda langit alami. Dokumentasi video dari warga yang memperlihatkan objek pecah menjadi beberapa bagian menjadi bukti kuat bahwa itu adalah benda padat yang terbakar.
Masyarakat Lampung sempat dihebohkan dengan penampakan benda langit misterius berekor cahaya yang melintasi langit pada Sabtu malam, 4 Maret 2026. Meski banyak warga yang mengira fenomena tersebut adalah komet yang jatuh ke Bumi, otoritas astronomi memastikan bahwa objek tersebut merupakan material buatan manusia yang kembali masuk ke atmosfer.
“Kemungkinan besar itu adalah sampah antariksa,” kata Annisa saat memberikan keterangan pada, 5 April 2026. “Benda tersebut kemungkinan besar merupakan sampah antariksa dari tubuh roket milik negara China.”
Annisa menjelaskan bahwa fenomena ini tidak berbahaya bagi masyarakat luas. Sebagian besar benda jatuh yang memasuki atmosfer Bumi akan mengalami interaksi gesekan hebat yang mengakibatkan objek terbakar habis.
Secara teknis, hanya sisa-sisa material kecil yang kemungkinan sampai ke permukaan Bumi, sehingga risiko benturan besar sangat minim.
Namun, di tengah insiden sampah antariksa ini, pihak OAIL mengungkapkan bahwa saat ini memang ada komet asli yang sedang dalam pengawasan ketat para astronom, yaitu komet C/2026 A1 (MAPS).
Komet tipe sungrazer atau pelintas dekat Matahari ini diperkirakan akan mencapai jarak terdekat dengan Matahari. Jika komet ini berhasil melewati fase perihelion tanpa hancur, posisinya akan mencapai titik terdekat dengan Bumi (perige) pada Senin, 6 April 2026.
“Jika komet ini selamat, MAPS akan tampak di rasi Cetus dan menjadi objek yang bisa diamati dengan mata telanjang tanpa alat bantu,” tambahnya.
Peristiwa di Lampung ini menambah panjang daftar jatuhnya objek buatan manusia ke wilayah Indonesia. Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, frekuensi jatuhnya sampah antariksa di wilayah ekuator tercatat mengalami peningkatan seiring dengan masifnya peluncuran satelit konstelasi dan misi eksplorasi global.
Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya juga mencatat fragmen roket pendorong yang melintasi Kalimantan dan Sulawesi, yang kini menjadi tantangan serius bagi tata kelola ruang angkasa internasional terkait keselamatan jalur penerbangan.
Menanggapi berbagai spekulasi yang beredar di media sosial, OAIL mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengandalkan informasi dari lembaga resmi. Ketimbang panik, warga diminta untuk berperan aktif dalam pengumpulan data ilmiah jika melihat fenomena serupa di kemudian hari.***









